BALIKPAPAN, JUMAT - Tercatat sekitar 1.000 anak di Provinsi Kaltim putus sekolah setiap tahun. Penyebab utamanya budaya mementingkan bekerja daripada sekolah.
Transmigrasi maupun urbanisasi juga merupakan faktor pemicu. Orangtua mengajak anaknya ke kota maupun ke Kaltim tanpa kesiapan menghadapi perekonomian Kaltim. Akhirnya mereka mengorbankan pendidikan anak dan mengutamakan bekerja.
Ini dikemukakan Ketua Asosiasi Sekolah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) Kaltim, Drs Mugni Baharuddin, ketika berkunjung ke rumah dinas Wakil Walikota di Jl Meratus, Kamis (20/3).
"Kami mencatat 1.000 anak putus sekolah saat ikut orangtuanya masuk Kaltim. Para orangtua tidak siap bersaing akhirnya mengorbankan anaknya dan menuntut anak bekerja," ujarnya. Sedangkan jumlah anak yang tidak sekolah saat ini tercatat sekitar 15.000 orang di seluruh Kaltim
Mugni yang juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda mengatakan, untuk mengantisipasinya, hanya bisa lakukan sekolah rumah seperti yang dicetuskan Kak Seto. Kendala yang dihadapi Asah Pena di Samarinda yakni tersendatnya dana.
Ia menilai, Asah Pena di Balikpapan lebih maju dibanding kota lainnya karena dananya dari berbagai perusahaan. Usai dari rumdin Wawali, rombongan Asah Pena Kaltim menuju sekolah rumah di Sepinggan dan Balikpapan Baru. (tibun kaltim/m19)

