Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 04:32 WIB
"Mind Map", Biar Otak Tidak Mismanajemen
LTF | Kamis, 16 April 2009 | 16:22 WIB
|
Share:

shutterstock
Selain menggunakan otak sesuai cara kerja alaminya, Mind Map juga mengupas cara belajar sesuai pola kerja kedua fungsi otak

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Mind Map merupakan istilah teknik pemetaan pikiran untuk membantu membuka seluruh potensi dan kapasitas otak yang masih "tersembunyi". Pemetaan pikiran ini akan melibatkan kedua sisi otak secara bersamaan, yaitu otak kanan dan otak kiri.
 
Istilah metode ini ditemukan oleh Tony Buzan pada akhir tahun 1960-an. Ahli pengembangan potensi manusia asal Inggris itu mengatakan, aplikasi Mind Map adalah menggunakan otak sesuai dengan cara kerja alami otak. Selain itu, Mind Map juga mengupas cara belajar sesuai pola kerja masing-masing kedua otak tersebut.

Menurut Ir. Sutanto Widura, Buzan Licensed Instructor, dalam diskusi 'Mind Map" di Jakarta Jumat (3/4) pekan lalu, otak berjalan secara linier. "Setiap informasi masuk akan segera dipancarkan dengan sendirinya oleh otak menjadi asosiasi yang berbeda-beda," kata Sutanto. "Untuk itulah cara kerja natural otak perlu dipelajari agar mendapatkan fungsi otak yang optimal," tandas Sutanto.

Berdasarkan metode ini, Sutanto membuat revolusi belajar. Dia mengombinasikan antara materi pelajaran (what to learn) dengan cara belajar (how to learn). Hal itu dilakukannya terkait kelaziman otak manusia yang ‘senang’ dengan gambar, sementara otak manusia lebih seringkali dijejali tulisan dan kata-kata atau kerja otak kiri.

Caranya, Sutanto lebih dulu mengklasifikasikan otak. Otak kiri terdiri dari tulisan, bahasa, angka, analisa, logika, urutan, serta hitungan. Sementara itu, otak kanan terdiri dari konseptual, musik, gambar, warna, dimensi, imajinasi, serta melamun.

"Mulai sekarang gunakan keduanya secara seimbang," saran Sutanto. "Gunakan sesuai cara kerja alaminya semisal menggunakan warna, bahasa, atau tulisan," tambahnya.

Pada prinsipnya, Sutanto lebih terfokus pada pemilihan cara belajar. Untuk kerja otak tersebut, ada tiga konsep pembelajaran yang bisa dipilih. Pertama pembelajaran lewat visual, lewat auditorial, atau secara kinestetik atau menulis. "Pilih kebiasaan itu dan pertajam, tetapi itu pun tergantung Anda menonjol di mana," kata Sutanto.

Sutanto menamakan hal tersebut dengan multiple intelligence. "Anda menonjol di bahasa, logika, gambar, musik atau apapun, gunakan saja sebagai pijakan awal memilih metode pembelajaran," tambah Sutanto.