Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:01 WIB
Program Bapak Angkat Belum Efektif
Erlangga Djumena | Minggu, 7 Juni 2009 | 08:21 WIB
|
Share:

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Pengunjung melihat beragam kerajinan dan mebel dari berbagai daerah di pusat perbelanjaan Jakarta City Centre, Kamis. Pusat perbelanjaan ini menjadi salah satu media bagi usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mencari peluang pasar bagi produknya.

TERKAIT:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Program bapak angkat yang harus dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan menyisihkan 1-5 persen laba serta oleh perusahaan besar, hingga kini dinilai belum efektif.

"Hal itu disebabkan pembinaan yang dilakukan bapak angkat hanya bagaikan sinterklas yang membagi dana pembinaan tanpa peduli dengan dinamika bisnis anak angkatnya," kata guru besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Mudrajad Kuncoro di Yogyakarta, Minggu (7/6).

Selain itu, kata Mudrajad, bapak angkat juga merasakan bahwa kemitraan yang terjalin dengan anak angkatnya sekadar memenuhi misi sosial.
   
Praktik bapak angkat di lapangan, lanjut Mudrajad, malah kerap memunculkan rasa saling curiga antara bapak dan anak angkatnya. "Si kecil curiga, jangan-jangan dengan kemitraan malah membuka peluang untuk dicaplok si besar. Kecurigaan tersebut didasarkan fakta ada bapak angkat yang ’memakan’ anak angkatnya sendiri," katanya.
   
Berdasarkan data sensus ekonomi 1996, hanya empat persen usaha kecil menengah yang terlibat dalam program bapak angkat atau 6.595 unit usaha dari total 161.349 usaha.

Dari 6.595 unit usaha kecil dan rumah tangga yang terlibat dalam program bapak angkat, 29 persen mengaku menjalin hubungan dengan usaha besar untuk pengadaan bahan baku, 15 persen menerima bantuan uang atau modal, 10 persen untuk pemasaran dan satu persen dalam bentuk konsultasi, sedangkan sisanya bervariasi dan tidak dapat dispesifikasikan.

Selain itu, pelaksanaan program kemitraan dan bina lingkungan oleh BUMN memiliki kecenderungan menurun sejak 1989 hingga 2005, begitu pula dengan jumlah mitra binaan.

Pada 2002, jumlah mitra binaan mencapai 66.578 tetapi turun menjadi 31.019 mitra binaan pada 2005, sedangkan  dana untuk bina lingkungan pada 2002 mencapai Rp 36,1 miliar tetapi turun menjadi Rp 33,9 miliar pada 2005.   

Mudrajad meyakini, apabila prinsip kemitraan yaitu saling membutuhkan dan membantu dapat diterapkan secara baik, maka kemitraan akan berubah menjadi "barang kebutuhan" bagi bapak angkat dan anak angkatnya untuk kemudian menghilangkan kesenjangan dan kecemburuan sosial.
   
"Apalagi usaha kecil memainkan peran yang patut diperhitungkan, terutama dalam menyerap tenaga kerja, ekspor dan menopang penghasilan keluarga," katanya.

Sumber :
Ant