Senin, 22 September 2014

News / Edukasi

Militer Bukan... tapi Gayanya bak Tentara

Kamis, 16 Juli 2009 | 07:06 WIB

PEKANBARU, KOMPAS.com — Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Masmur Pekanbaru melaksanakan masa orientasi siswa (MOS) terhadap murid baru dengan perpeloncoan ala militer.
    
Murid baru, baik laki-laki maupun perempuan, dijemur di terik matahari hingga pukul 12.00 WIB, disuruh makan nasi sisa, dan ditendang kalau dianggap melanggar disiplin oleh seniornya.
    
Pantauan ke sekolah ini, Rabu (15/7), terlihat para siswa yang sedang menjalani MOS berbaris di depan sekolah. Di dada mereka tertulis nama-nama binatang. Ada yang namanya tikus, kampret, virus H1N1, tupai, hingga anjing.
     
Di dekat guru pembina terletak kardus yang isinya macan-macam makanan mentah, petai, terung, dan lainnya. Makanan mentah ini nantinya akan dilahap para siswa baru tersebut. "Ini untuk melatih disiplin anak-anak. Soal disetrap sampai pukul 12.00 WIB, itu untuk mengetahui ketahanan fisik mereka. Makan petai mentah, untuk mengetahui sejauh mana siswa bisa beradaptasi dengan lingkungannya," kata salah seorang guru pembina, Zul.
    
Menurut informasi beberapa siswa, perpeloncoan dengan kekerasan ini sudah jalan sejak tiga tahun lalu di SMK Masmur. Selama MOS siswa baru dididik disiplin oleh kakak kelasnya, tetapi didampingi oleh guru pembina. MOS berakhir dengan diinapkannya siswa baru selama dua malam di sekolah tersebut.
    
Kepala SMK Masmur Muhamad Firdaus membantah pelaksanaan MOS dengan menerapkan disiplin ala militer di sekolahnya. Bahkan, saat membuka MOS pada Senin (13/7), Firdaus sudah mengingatkan kepada para senior untuk tidak melakukan hal-hal aneh terhadap adik kelasnya. "MOS hanya bertujuan bagaimana siswa baru mengenal lingkungannya, sekolahnya, guru, dan teman-temannya. Tidak ada uji ketahanan mental ataupun fisik segala," kata Firdaus.
      
Firdaus menyatakan akan memberikan tindakan tegas terhadap siswa yang melakukan kesalahan ataupun guru pembina yang lalai mengawasi jalannya MOS. Sanksi bisa berupa teguran hingga dikeluarkan dari sekolah.

 


Editor :
Sumber: