Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Senin, 21 Mei 2012 | 17:15 WIB
DPRD: MOS Jangan Melenceng!
Aloysius Budi Kurniawan | Kamis, 16 Juli 2009 | 21:08 WIB
|
Share:

SURABAYA, KOMPAS.com — Masa orientasi sekolah atau MOS pada dasarnya memiliki tiga tujuan, yaitu pengenalan, pengakraban, dan sosialisasi. Karena itu, jangan sampai kegiatan MOS keluar dari tujuan awalnya, apalagi berpotensi mempermalukan dan menakutkan siswa.

Demikian penuturan Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Rofi Munawar, Kamis (16/7) di sela Sidang Paripurna DPRD Jatim, di Surabaya. "Yang dikhawatirkan banyak orang sebenarnya bukan MOS-nya, tetapi improvisasi MOS di lapangan yang dilakukan senior kepada yunior," ujarnya.

Menurut Rofi, MOS pada dasarnya melakukan tiga hal, yaitu pengenalan, pengakraban, dan sosialisasi. Pengenalan dalam arti anak baru memerlukan pengenalan kondisi sekolah, pengakraban berkaitan dengan pembentukan hubungan harmonis antara siswa yunior dan senior, dan sosialiasi, yaitu pengenalan sejumlah kebijakan sekolah.

Karena itu, menurut Rofi, jangan sampai ada kegiatan MOS yang keluar dari tiga kerangka ini. Agar kegiatan MOS bisa sampai pada tujuan. Maka jangan sampai ada kegiatan MOS yang berpotensi mempermalukan dan menakutkan siswa karena dua hal inilah yang akan mengakibatkan stres di kalangan siswa.

"Stres yang terjadi di kalangan siswa berbeda-beda dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Ada siswa yang disuruh memasang ikat kepala sambil menggigit dot tak apa-apa. Tapi ada juga siswa yang stres karena perlakuan seperti ini," kata Rofi.

Rofi menyatakan, perlu dipikirkan kegiatan MOS yang disesuaikan dengan sejarah psikologis siswa. Artinya, panitia MOS harus melihat rekam sejarah masing-masing siswa. Dengan demikian, bentuk pendekatan dan pembinaan siswa sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.

Selain itu, Rofi menegaskan, guru harus tegas dalam mengawasi pelaksanaan MOS. Mengingat, terjadinya kasus kekerasan dalam MOS seringkali muncul karena lemahnya pengawasan pengajar.

Gubernur Jatim Soekarwo menambahkan, setiap daerah memiliki otoritas dan kebijakan masing-masing terkait pelaksanaan MOS. Namun, menurut Soekarwo, sebaiknya pelaksanaan MOS ditekankan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif, misalnya menanam pohon.