SEMARANG, KOMPAS.com - Dalam pidato berjudul "Pendekatan Multi Dimensi dalam Penelitian Keolahragaan", Prof Tandiyo Rahayu mengatakan, untuk melakukan penelitian tentang keolahragaan tidak dapat dilakukan hanya dalam satu bidang ilmu, yaitu ilmu keolahragaan.
Pidato tersebut dibacakan oleh Prof Tandiyo di acara pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), di Semarang, Rabu (22/7).
"Sebab banyak hal yang berpengaruh di dunia keolahragaan, sehingga diperlukan penelitian secara komprehensif dalam berbagai bidang ilmu untuk mengkaji permasalahan yang dihadapi oleh kondisi keolahragaan di Indonesia," katanya.
Menurut Tandiyo, nantinya akan banyak pertanyaan muncul saat mengkaji masalah olahraga. Ia menyebutkan antara lain berkaitan dengan psikologis, budaya, dan sebagainya yang tidak akan mungkin dapat dijawab oleh peneliti seorang diri, apalagi hanya dari satu sudut pandang keilmuan.
Sementara itu, Prof F Totok Sumaryanto, yang juga dikukuhkan sebagai guru besar, memberikan pidatonya berjudul "Menjadi Pembelajar dengan Seni". Totok menyampaikan pentingnya seni dalam memperlancar berlangsungnya proses pendidikan.
Totok mengatakan, para siswa tingkat awal yang diajarkan irama dan melodi lagu-lagu selama 40 menit dalam sehari selama tujuh bulan mampu menunjukkan skor lebih tinggi dalam pelajaran membaca. Kemudian, anak-anak di Jepang dan China yang telah diberikan kegiatan bermain seni tradisional, serta mengikuti gerakan-gerakan lain dalam yoga juga menjadi lebih tenang dan fokus terhadap pelajaran.
Selain itu, kata Totok, banyak juga penelitian-penelitian lain yang membuktikan bahwa seni sangat memengaruhi kelancaran proses pembelajaran yang diberikan.
Dipimpin langsung oleh Rektor Unnes Prof Sudijono Sastroatmodjo, Prof Tandiyo Rahayu dikukuhkan sebagai guru besar Unnes ke-59 pada FIK Unnes, sementara Prof F Totok Sumaryanto dikukuhkan sebagai guru besar ke-60 FBS Unnes. Terhitung mulai hari ini, Rabu (22/7), Unnes telah memiliki 60 guru besar.
