Rabu, 3 September 2014

News / Edukasi

Hentikan Kekerasan pada MOS!

Senin, 3 Agustus 2009 | 13:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah elemen masyarakat mengimbau agar aksi kekerasan yang kerap terjadi di Masa Orientasi Sekolah (MOS) dihentikan. Budaya kekerasan di MOS, yang seharusnya menjadi ajang perkenalan antara senior dan junior, tidak mencerminkan budaya Indonesia sesungguhnya.

Seperti diberitakan, empat pelajar SMA tewas ketika menjalani MOS. Mereka adalah Roy Aditya (16), pelajar SMAN 16 Surabaya; Muhamad Rajib (16), pelajar Sekolah Pelayaran Menengah Pembangunan Tanah Merdeka Jakarta; Dara Sinta (13), pelajar SMPN 2 Banjar; dan Soni Galaxi Putra (17), pelajar SMA Cendana, Sumatera Barat. Ketua Yayasan Sejiwa Diena Haryana mengatakan, jumlah korban tewas ini merupakan yang terbanyak.

Diena mengatakan, tingkat agresivitas di MOS semakin parah. Diena berharap, semua pihak terkait lebih memerhatikan kegiatan MOS di sekolahnya.

"Kalau pihak-pihak terkait tidak mampu membenahi MOS dengan meninggalkan cara-cara yang dapat merusak potensi, maka MOS tidak layak lagi berada dalam agenda pendidikan," ujarnya di Serambi Salihara, Jakarta, Senin (3/8).

Sementara itu, Guru Besar Unika Atmajaya Prof Irwanto mengatakan, langgengnya MOS yang berisi kekerasan tidak lepas dari pembiaran orang dewasa. "Orang dewasa membiarkan sistem tetap berjalan yang memungkinkan semua ini terjadi. Anak kita terlalu berharga untuk disia-siakan," katanya.

Sementara itu, Ketua Bidang Pengaduan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Magdalena Sitorus mengimbau agar orangtua murid lebih pro-aktif dalam menyikapi tindak kekerasan yang menimpa anaknya. "Saat ini, berapa banyak orangtua yang bicara ke guru ketika anak mereka mendapatkan tindak kekerasan," tanyanya.

Terakhir, Amrullah, spesialis pemenuhan hak-hak anak Plan Indonesia, secara lebih luas menekankan pentingnya kode etik di sekolah yang dalam penyusunannya melibatkan peserta didik. "Kondisi sekarang ini, ada peraturan di sekolah, tapi yang berhak membuatnya hanya kepala sekolah, bagaimana anak-anak dapat belajar kepemimpinan dan demokrasi," ujarnya.


Editor :