Mobil Pintar untuk Anak-anak Daerah Tertinggal - Kompas.com

Mobil Pintar untuk Anak-anak Daerah Tertinggal

Kompas.com - 06/08/2009, 12:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anak-anak yang berada di daerah tertinggal, daerah pascakonflik, dan daerah rawan bencana seringkali tidak memiliki akses pada pendidikan. Agar ketertinggalan mereka tak terlalu jauh, dimunculkanlah program mobil pintar. Program mobil pintar merupakan sebuah strategi baru yang digagas oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SKIB) dan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) yang difasilitasi Depdiknas, sebagai media belajar informal dan sarana kegiatan untuk anak-anak yang berada di daerah tertinggal dan tak terjangkau pendidikan.

 

Untuk mematangkan program tersebut, SIKIB bekerja sama dengan KNIU menggelar workshop Pengembangan Program Mobil Pintar untuk Daerah Tertinggal, Daerah Konflik, dan Daerah Rawan Bencana, di Gedung Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, Kamis (6/8). Workshop dilakukan untuk merumuskan penanganan dan konten pengajaran yang akan diimplementasikan di lapangan. Hadir dalam acara tersebut Ketua KNIU Arief Rahman Hakim, Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal Depdiknas, dan Ibu Anton Apriantono serta Ibu Okke Hatta Rajasa dari SIKIB.

 

 

Menurut Arif Rahman Hakim, keberadaan program edukasi nonformal berupa mobil pintar ini sangat penting mengingat daerah-daerah tersebut memerlukan penanganan yang berbeda. "Anak-anak di daerah semacam itu memiliki problem psikologis yang cukup berat. Pendidikan secara simultan melalui mobil pintar ini dapat menyelesaikan masalah tersebut," ungkap Arief.

 

Mengenai pendanaan untuk program ini, menurut Okke Hatta Rajasa, berasal dari program corporate social responsibility (CSR) di berbagai institusi. "Dana CSR itu dari berbagai sumber, bisa dari BUMN, perusahaan swasta, pemda, dan sebagainya," ujar Okke.

 

Dengan difasilitasi oleh Depdiknas, para tutor untuk program ini juga akan diberikan pelatihan khusus. Okke mengharapkan dengan pelatihan tersebut, tutor tidak hanya mampu memberikan materi ajar dengan baik, tetapi juga memiliki empati terhadap anak-anak korban. "Untuk daerah konflik dan rawan bencana, yang penting adalah bagaimana mereka bisa mengayomi dan mengembalikan kepercayaan diri mereka seperti semula," katanya.

 

Dalam workshop ini antara lain dilakukan penentuan cakupan pengembangan materi ajar mobil pintar, pengarahan terhadap fasilitator, dan identifikasi terhadap daerah tertinggal, pascakonflik, dan rawan bencana. "Hasilnya nanti dijadikan kerangka acuan dalam aplikasi program mobil pintar," pungkas Okke.

 

Dalam program ini, sebetulnya tidak hanya berupa mobil pintar. Namun, juga akan dikembangkan motor pintar dan kapal pintar. Kendaraan tersebut juga dipakai mengingat kondisi alam di daerah tertinggal, berkonflik, dan rawan bencana, memiliki kondisi alam yang fluktuatif dan cukup sulit untuk ditembus.

Editor
Close Ads X