Selasa, 21 Oktober 2014

News / Edukasi

Di Balik Riuhnya Perayaan 17 Agustus....

Senin, 17 Agustus 2009 | 11:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik riuhnya perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-64, ada hal-hal kecil tetapi sebetulnya sangat penting untuk dijaga oleh para guru, khususnya guru sejarah, yaitu semangat dan nilai-nilai kejuangan para pahlawan untuk selalu ditanamkan kepada para siswa.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Forum Guru Independen Indonesia (FGII) Suparman di Jakarta, Senin (17/8). Suparman mengatakan, ritual perayaan Hari Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus itu semata sebagai ingatan kolektif saja, bahwa di hari itulah Indonesia merdeka, lepas cengkeraman penjajah.

"Padahal yang lebih penting adalah justeru semangat dan nilai-nilai di balik itu semua, yaitu semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan, menjunjung kesetiakawanan, serta gotong-royong. Itulah yang harus selalu dibangun oleh para guru sejarah," ujar guru sejarah di SMA 17 Jakarta ini.

Suparman mengakui, menanamkan semangat dan nilai-nilai itu kini menjadi tantangan para guru sejarah. Sebab, kata dia, semangat dan nilai-nilai itu kini semakin terkikis dan luntur oleh derasnya kemajuan zaman dan arus globalisasi.

"Pelajaran bersifat teks dan hafalan, upacara atau lomba-lomba perayaan 17 Agustus itu adalah penanaman nasionalisme yang sifatnya formalistik saja, sehingga harus diikuti dengan penanaman semangat dan nilai-nilai itu tadi dalam kehidupan sehari-hari para siswa," ujar Suparman.

Kepada siswa, kata Suparman, guru harus dapat memberi pemahaman, bahwa kemerdekaan tidak bisa diperoleh tanpa semangat dan nilai-nilai tersebut. Karena dengan persatuan, kesetiakawanan, dan gotong-royong itulah kemerdekaan terwujud.

"Memang ini hanya hal kecil dan terkesan sangat sederhana dibandingkan dengan riuhnya kegiatan perayaan itu sendiri, tetapi bisa kita lihat kini semangat dan nilai-nilai itu semakin terkikis," ujar Suparman. "Menjenguk teman yang sakit, meminjamkan buku untuk teman yang tidak punya, nilai-nilai semacam itulah yang kian luntur," ujarnya.


Editor :