YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Forum Rektor Indonesia berharap menteri pendidikan nasional (mendiknas) di kabinet 2009-2014 bukan politisi atau berasal dari partai politik tertentu. Forum Rektor menilai netralitas ideologi politik sangat penting dalam posisi menteri pendidikan nasional.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid selaku Ketua Forum Indonesia (FRI) mengatakan, posisi mendiknas sangat berpengaruh dalam membentuk pola pikir ataupun ideologi lembaga pendidikan, pelajar, dan mahasiswa. Padahal, kebebasan dalam mengembangkan ideologi ataupun pola pikir dalam sebuah lembaga pendidikan sangat penting untuk dijaga. "Kita tidak ingin terjadi penyeragaman pola pikir dan ideologi dalam lembaga pendidikan. Penyeragaman ini dikhawatirkan terjadi bila mendiknas berasal dari partai tertentu," katanya dalam pertemuan FRI di UII, Yogyakarta, Rabu (9/9).
Selain itu, FRI juga mengusulkan Mendiknas adalah praktisi pendidikan yang profesional dan punya pemahaman mengenai filosofi pendidikan. Tingkat pemahaman dan netralitas ini bisa terlihat dari rekam jejak dan pandangan para praktisi pendidikan dalam publikasi ataupun media massa.
Senada dengan itu, mantan Rektor Universitas Negeri Bengkulu Zulkifli Hussein menjelaskan, suara mendiknas mempunyai pengaruh sangat besar untuk menentukan rektor sebuah perguruan tinggi. Dengan pengaruhnya ini, ideologi suatu perguruan tinggi bisa dipengaruhi dan diarahkan sesuai dengan pandangan partai politiknya. "Kalau mendiknas itu politisi atau berasal dari satu partai politik tertentu, dia akan cenderung memilih rektor yang punya kedekatan dengan partainya. Begitu juga di tingkat rektor akan cenderung memilih dekan dengan kedekatan yang sama, begitu seterusnya hingga tingkat bawah," ucapnya.
Sementara itu, mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Eko Budihardjo, yang juga anggota Dewan Pertimbangan FRI, mengutarakan, mendiknas juga harus mempunyai visi jangka panjang yang jelas. "Selama ini, pendidikan Indonesia belum mempunyai arah yang jelas. Padahal, arah pendidikan sangat penting untuk menentukan nasib bangsa di masa depan. Visi yang jelas diperlukan untuk menentukan dasar dan arah pendidikan bangsa yang juga akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan warga Indonesia," ujarnya.
Sebagai gambaran, China dan Singapura telah meletakkan dasar dan arah pendidikan dengan jelas puluhan tahun lalu. Saat ini, kedua negara itu telah bisa memetik hasil yang salah satunya ditandai dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi.
Lebih lanjut, Eko berpendapat, sumbar daya alam (SDA) merupakan salah satu potensi terbesar bangsa ini sehingga mestinya pemerintah mengutamakan pendidikan di bidang pengelolaan dan pengolahan sumber daya alam (SDA). Akan tetapi, saat ini jurusan-jurusan terkait, seperti pertanian, perikanan, ataupun perkebunan, justru sepi peminat.
