Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 03:21 WIB
Disuntik Rp 108 Miliar, Kurikulum Kewirausahaan Dipraktikkan 2010
Luki Aulia | latief | Senin, 2 November 2009 | 18:51 WIB
|
Share:

M.LATIEF/KOMPAS.COM
Ilustrasi: Idealnya, pembentukan karakter dimulai dari pendidikan paling dasar, yakni tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Dalam pelaksanaan pendidikan kewirausahaan pun Depdiknas bisa bekerja sama dengan kalangan industri.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk memupuk kreativitas dan daya inovasi pada anak didik sejak usia dini, diperlukan suatu sistem pendidikan yang menitikberatkan pada pembentukan karakter.

Diharapkan, dengan pendidikan karakter itu pula anak didik akan memiliki semangat kewirausahaan. Untuk itu, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mulai menyusun kurikulum tentang kewirausahaan yang diharapkan akan selesai akhir Januari 2010 dan dapat dipraktikkan mulai tahun ajaran 2010/2011.

Demikian hal itu diutarakan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, Senin (2/11), seusai rapat tingkat menteri hasil Rembuk Nasional 2009 di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI, di Jakarta.

:Ini termasuk program 100 hari, jangan sampai dikesankan ganti menteri ganti kebijakan. Setiap tahun tantangan yang harus dihadapi dunia pendidikan berubah, jadi jika ada perubahan di kurikulum, ya, tidak apa-apa karena memang tuntutan zamannya begitu," kata Nuh.

Pendidikan pembentukan karakter sebagai dasar pendidikan kewirausahaan dinilaiia penting untuk menumbuhkan keingintahuan intelektual. Ide pendidikan kewirausahaan, kata Nuh, adalah membentuk pola pikir fleksibel agar kreativitas terdorong.

"Kreativitas tidak akan pernah muncul jika model pemikirannya masih kaku dengan pendekatan-pendekatan yang dogmatis. Ini yang harus dibongkar terlebih dahulu," ujarnya.

Sebagai langkah awal, Depdiknas akan menitikberatkan pada peningkatan kualitas tenaga pendidik sehingga akan lahir lulusan-lulusan Perguruan Tinggi (PT) yang berkualitas dan memiliki kemampuan menjadi wirausahawan/wati.

"Kita tidak ingin lulusan PT menjadi beban, tetapi menjadi bagian dari solusi. Dengan wirausaha ini, akan tercipta lapangan pekerjaan sehingga akan memotong lingkaran kemiskinan, pengangguran, dan lain-lain," kata Nuh.

Sejak dini

Idealnya, pembentukan karakter dimulai dari pendidikan paling dasar, yakni tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Dalam pelaksanaan pendidikan kewirausahaan pun Depdiknas bisa bekerja sama dengan kalangan industri.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal mengatakan, pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) untuk melaksanakan program riil seperti penelitian terapan maupun pengabdian masyarakat di tingkat PT.

Untuk tahun ini, Depdiknas juga akan membangun 300 pusat kewirausahaan dan PT dengan melatih 3-5 dosen setiap PT untuk memperoleh wawasan penuh tentang pendampingan kewirausahaan dengan mahasiswa. Menurut rencana anggaran tahun 2009, khusus untuk program kewirausahaan di tingkat PT dialokasikan Rp 108 miliar.

"Sebenarnya SMA/SMK juga bisa memakai dana BOS untuk merangsang kegiatan-kegiatan yang melahirkan inovasi dan kreativitas. Tetapi tergantung sekolah masing-masing saja," kata Fasli.

Sumber :
Kompas Cetak