Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:15 WIB
Inilah, "Jalan Hidup Guru"....
| latief | Jumat, 6 November 2009 | 11:30 WIB
|
Share:

shutterstock
Ilustrasi: Judul "Art for Education" ini dilatarbelakangi oleh sebuah wacana, bahwa guru bukan hanya untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Lebih dari itu, guru memiliki nilai idealisme pendidikan.

TERKAIT:

BANDUNG, KOMPAS.com - Guru ternyata tak hanya pandai mengajar. Mereka juga bisa menjadi perupa. Bahkan, bisa menciptakan alat-alat untuk membantu metode proses belajar mengajarnya di sekolah.

Namun, tentu saja, metode yang diusung tersebut supaya lebih memudahkan penyampaian suatu pelajaran kepada siswa dan siswi. Hal tersebut seperti yang terungkap dalam pameran seni rupa kontemporer di Galeri Kita Jalan RE Martadinata (Riau). Beberapa karya guru dipamerkan di galeri tersebut dengan mengangkat tema "The Teacher's Way (Jalan Hidup Guru)".

Tampak di situ media pembelajaran mulai dari seni rupa, teknik membuat kriya, hingga metode pembelajaran sains. Untuk seni rupa, dipamerkan seni melukis dengan teknik kolase dan membuat lukisan dengan menggunakan kain perca. Ada juga metode seni yang menggunakan media kaca dan cahaya.

Di pameran itu, ditampilkan pula teknik membuat jam meja yang dibuat oleh Mulyono, seorang guru teknik kriya dari SMK 14. Menurutnya, ia mendapat ide untuk membuat suatu karya yang bisa dijadikan cendera mata.

"Sebenarnya masih ada metode cara pembelajaran lain, tapi hanya ini yang bisa dipamerkan pada kegiatan ini," kata Mulyono saat sedang mempersiapkan acara pembukaan pameran, Kamis (5/11).

Karya lain yang menarik dalam pameran ini adalah teknik membuat cerita bergambar atau cergam. Digambarkan bagaimana proses membuat sebuah cergam mulai dari gambar awal hingga menjadi berwarna. Selain itu, dipamerkan juga metode pembelajaran kartu soal, yakni tentang cara mudah bagi siswa-siswi mengingat vocabulary.

Menurut Bambang Subarnas, kurator pameran di Galeri Kita, pameran lukisan dengan mengusung judul "Art for Education" ini dilatarbelakangi oleh sebuah wacana, bahwa guru bukan hanya untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Lebih dari itu, guru memiliki nilai idealisme pendidikan.

"Sebab, guru juga menentukan masa depan suatu bangsa. Itu kan nilai idealisme. Ini yang mendasari pameran ini. Ternyata banyak metode yang didapat guru untuk mempermudah pembelajaran di sekolah," kata Bambang.

Bambang juga mengatakan, pameran ini menjadi wahana autokritik praktik pembelajaran di sekolah karena mengingatkan kembali bagaimana jadinya guru mengajar tanpa idealisme tersebut. Dia menambahkan, bahwa karya-karya yang dipamerkan tersebut bukanlah karya yang sengaja dibuat untuk pameran, melainkan sudah mereka buat jauh sebelum ada pameran.

Adapun selain lukisan, terdapat pula karya lain seperti seni rajutan, metode sains untuk percobaan fisika, atau kotak dimensi untuk membedakan warna. Bambang menambahkan, pameran ini resminya dibuka Kamis malam kemarin (5/11) dan dibuka untuk umum hingga 23 November mendatang.

Pada 21 November nanti, pameran akan diselingi dengan seminar dengan tema "Guru di Tengah Tantangan Zaman". Pameran lukisan guru ini merupakan pertama kalinya di Jawa Barat. "Pameran juga diharapkan dapat dijadikan sebuah awal dari program-program lanjutan pengembangan kreativitas guru dalam pembelajaran," katanya.

Sumber :
TRIBUN JABAR