JAKARTA, KOMPAS.com - Selama masih ada industri yang berdiri di lokasi menetapnya masyarakat, tidak ada alasan bagi masyarakat tersebut untuk tidak sejahtera, sehat, apalagi tak berpendidikan. Pemilik industri harus menopangnya.
Pemilik industri harus bisa bermitra dengan masyarakat untuk bisa membuat mereka berkembang dan mandiri. Demikian hal itu diungkapkan oleh Human Resources & Corporate PT Frisian Flag Indonesia (FFI) Hendro H.Pedjono memaparkan tantangan program Corporate Social Responsibilty (CSR) perusahaan susu tersebut ke depan di Jakarta, Rabu (11/11).
"Apapun sepanjang itu adalah inisiatif dari masyarakat sendiri, sudah semestinya pemilik industri memberikan dukungan," ujar Hendro.
Hendro mengambil contoh pengembangan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pelatihan enterpreneur jamur kuping bagi masyarakat Kelurahan Gedong, Jakarta Timur, yang merupakan salah satu lokasi berdirinya pabrik FFI di Jakarta. Kata dia, khusus program PAUD, FFI tidak hanya pemberian alat peraga pembelajaran, melainkan juga menggelar serangkaian pelatihan bagi kader-kader PAUD di wilayah kelurahan tersebut.
"Agar dukungan yang sudah kita berikan bisa memberikan atau menciptakan hasil yang berkesinambungan," ujar Hendro.
Terbukti, lanjut dia, dengan jumlah balita sebanyak 636 anak, program tersebut kini berhasil memiliki 135 kader. Mereka adalah para ibu-ibu di wilayah kelurahan tersebut.
Hendro menambahkan, jika pemberian program PAUD untuk membantu masyarakat di bidang pendidikan, pemberian modal dan pelatihan enterpreneur dilakukan FFI untuk menciptakan kemandirian masyarakat dan peningkatan ekonomi mereka.
"Awalnya, pada Maret lalu kami hanya berikan modal kurang lebih 10 juta, dari situ modal terus bertambah, berputar, dan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk terjun karena melihat hasilnya bagus," ujar Hendro, yang mengatakan sudah menyuntikkan modal keduanya dengan jumlah kurang lebih sama untuk program tersebut.
IDE
Menurut Hendro, sejak 2006 lalu sebetulnya FFI sudah menjalankan program khusus di bidang pendidikan, yaitu IDE (Inovasi Dalam Edukasi). Dilaksanakan bersama-sama Kementerian Pendidikan dan PT Unilever, FFI menyediakan bahan pelajaran tentang nutrisi yang dimasukkan ke dalam kurikulum Sekolah Dasar. Program ini merancang target 1.000 sekolah, 15.000 guru dan 300.000 murid di empat kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya.
"Tetapi program itu sudah selesai, hanya idenya saja yang tetap akan kita lanjutkan, yaitu pendidikan berbasis nutrisi," ujarnya.
Dia menambahkan, target FFI ke depan adalah lebih fokus pada program-program yang lebih melibatkan komunitas, baik yang bergerak di bidang kesejahteraan ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan. Ia mengambil contoh keberhasilan Program Pengembangan Susu Segar FFI, yang berhasil membina dan menjamin pembelian seluruh susu segar yang dihasilkan oleh para peternak sapi di Lembang, Pengalengan, Boyolali, Blitar, serta Temanggung.
"Kami telah melibatkan 30.000 petani, dan fokus kami ke depan adalah membuat program pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak mereka," ujar Hendro.
Hendro mengakui, berbagai program pertanggungjawaban sosial yang telah dilaksanakan oleh FFI belum sepenuhnya bisa memenuhi keinginan masyarakat dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Di sisi lain, kata dia, dukungan pemerintah pun harus lebih kencang untuk memacu kemandirian masyarakat dan pertumbuhan ekonominya agar lebih berkembang dengan baik.
"Pemerintah harusnya sadar, baik peternak maupun petani itu bukan saja butuh dukungan untuk sejahtera, sehat, tetapi juga hiburan, ketiganya harus dipenuhi untuk pembangunan ekonomi masyarakat yang lebih baik," kata dia.

