Selasa, 21 Oktober 2014

News / Edukasi

Bahasa Indonesia Makin Kuat, Bahasa Daerah Gonjang-Ganjing

Kamis, 17 Desember 2009 | 16:04 WIB

ENDE, KOMPAS.com - Seiring dengan arus perkembangan dan perubahan zaman, sebanyak 240 bahasa dari sekitar 650 bahasa daerah di Indonesia kini berada di ambang kepunahan. Kondisi itu serupa dalam konteks bahasa di dunia.

Laju kepunahan bahasa di dunia mencapai 40 persen. Saat ini, dari sekitar 6.000 bahasa terdapat kurang lebih 2.400 bahasa di dunia yang terancam punah.

Yang patut diwaspadai, keberadaan 240 bahasa daerah di ambang kepunahan itu salah satunya diperkirakan akibat penggunaan bahasa Indonesia di tengah masyarakat yang makin kuat, sehingga menekan bahasa daerah.

Laju kepunahan ini harus segera ditanggulangi, sebab jika suatu bahasa punah, maka akan hilang pengetahuan kita tentang suatu peradaban. Matinya bahasa berarti kita kehilangan kebudayaan dan karya seni.

"Matinya bahasa juga berarti terhapusnya ensiklopedia tentang pengetahuan manusia yang telah dihimpun dan ditempa dalam perjalanan sejarahnya," kata Profesor Stephanus Djawanai, Guru Besar Bidang Linguistik dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Stephanus menyampaikan hal itu ketika memberikan orasi ilmiah, Selasa (15/12), di acara wisuda sarjana dan diploma Universitas Flores (Uniflor) periode Desember 2009 angkatan ke-23, di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dari 500 guru besar di lingkungan UGM, Stephanus Djawanai merupakan guru besar ke-4 yang berasal dari NTT. Tiga guru besar asal NTT yang lain adalah Prof Herman Johannes, Prof Charles Rengga Tebu, dan Profesor Yeremias Keban.

Menurut Stephanus, arus kepunahan antara lain karena tidak ada lagi penutur yang mendukung bahasa itu akibat semua penutur sudah meninggal dunia, atau karena pendukung bahasa yang ada kehilangan minat terhadap bahasanya sendiri karena dipandang kurang bergengsi atau karena bahasa itu terdesak oleh bahasa yang lebih kuat.

Selain itu, terkikisnya bahasa daerah juga dimungkinkan karena perkembangan yang kuat Bahasa Indonesia ke dalam bahasa pergaulan (bahasa daerah). Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara atau bahasa nasional yang seharusnya digunakan dalam tataran formal, seperti di lingkungan kenegaraan, pemerintahan, lembaga pendidikan, maupun perkantoran.

"Tapi sekarang Bahasa Indonesia juga berkembang ke bahasa pergaulan di masyarakat. Mungkin karena dianggap Bahasa Indonesia lebih menarik atau lebih bergengsi," ujarnya.

Bahasa yang terancam punah itu juga banyak yang terdapat di wilayah NTT. Salah satunya di daerah perbatasan antara Kabupaten Sikka dan Flores Timur, di Pulau Flores, --bahkan di daerah itu terdapat satu bahasa kecil di lingkungan satu suku, lanjut Stephanus, yang belum pernah diteliti oleh kalangan perguruan tinggi.

Di sisi lain, bahasa daerah juga memiliki keunikan. Stephanus mencontohkan bunyi-bunyi kuno bahasa seperti [w] dalam kata waung yang berarti malam, [l] dalam kata leba yang artinya memikul dalam bahasa Sikka, lalu [bh] dalam kata bhai yang berarti tidak, dan [dh] dalam kata dhao yang artinya tangkap dalam bahasa Ngada, [jh] dalam kata jhawa pada bahasa Sabu. Bunyi-bunyi bahasa itu sangat unik, di dunia mirip dengan bahasa tertentu di Afrika Selatan, dan di pegunungan Kaukasus, Eropa Timur.

Guru Besar Linguistik UGM itu berpendapat perlu dilakukan penelitian kebahasaan, juga adanya lebih banyak siaran di radio-radio, maupun tayangan televisi lokal dengan bahasa daerah.

Paling tidak lewat siaran radio dan tayangan televisi yang menggunakan bahasa daerah itu masyarakat juga dapat mengenal, dan menjadi sarana pembelajaran. Selain itu juga dapat diupayakan lewat muatan lokal di sekolah-sekolah dengan materi kurikulum yang berkualitas, bahkan dapat pula lewat ibadah.

"Waktu saya kecil, di gereja di Ngada, menggunakan bahasa daerah. Dulu ada yang namanya sura ngasi, buku berisi teks doa-doa, dan sura mebho, buku yang berisi lagu-lagu dalam bahasa daerah. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi," ujar Stephanus.

Dia menambahkan, sudah saatnya di lingkungan pergaulan masyarakat digalakkan penggunaan bahasa pergaulan atau bahasa daerah, sedangkan Bahasa Indonesia digunakan sesuai dengan konteks situasinya.


Editor : latief