Senin, 20 Oktober 2014

News / Edukasi

Jabar Defisit Guru Bahasa Daerah dan Sosiologi

Jumat, 25 Desember 2009 | 12:00 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Jawa Barat tengah mengalami defisit guru pengampu bidang bahasa daerah dan sosiologi. Kondisi yang kurang baik ini secara tidak langsung dipicu oleh terabaikannya rumpun sosial budaya dalam praktik pendidikan saat ini.

Kepala Balai Pelatihan Guru Jabar Idin Baidillah, Rabu (23/12/2009) lalu, menuturkan, Provinsi Jabar sangat minim guru bahasa daerah. Di jenjang SMA misalnya, dari kebutuhan ribuan guru bahasa daerah Sunda dan Cirebon, saat ini hanya tersedia kurang dari 100 guru.

"Di tingkat SMA, minimnya guru bahasa daerah sangat terasa. Tidak setiap sekolah memiliki guru berlatar belakang pendidikan bahasa daerah murni. Di jenjang SMP, kondisinya agak lebih baik. Sekitar 30 persen sekolah sudah punya," ujar mantan Kepala Balai Pengembangan Bahasa Daerah Dinas Pendidikan Jabar ini.

Hal itu terjadi akibat minimnya pembukaan formasi guru Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) bidang bahasa daerah. "Banyak kabupaten/kota yang enggan membuka formasi ini. Tahun 2008-2009 ini mulai membaik. Beberapa kabupaten/kota sudah mulai sadar membuka formasi guru bahasa daerah," ucapnya.

Untuk menutupi kebutuhan guru ahli di bidang bahasa daerah, sekolah pada umumnya terpaksa menunjuk langsung guru-guru yang sudah ada. "Mereka ditanya siap mengajar bahasa daerah atau tidak. Jika siap, langsung mengajar. Ya, ditambah sedikit-sedikit penataran," ujarnya.

Idin mengaku prihatin dengan kondisi ini. Menurut dia, bahasa daerah sebetulnya berperan penting dalam pendidikan siswa. Salah satunya, memperkenalkan kebudayaan dan nilai-nilai kearifan lokal yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat saat ini.

Guru sosiologi

Tidak hanya bahasa daerah, bidang sosiologi pun bernasib sama. Hampir semua guru sosiologi di sekolah saat ini justru tidak berlatar belakang pendidikan sosiologi. Ini terjadi karena sekolah-sekolah lebih memprioritaskan pendidikan eksakta yang diujikan di Ujian Nasional (UN). "Jadinya, kelompok sosial dan bahasa kurang diperhatikan. Padahal, jika melihat ke Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional), kecerdasan itu kan bukan hanya intelektual," katanya.

Deklarator Asosiasi Pendidikan Sosiologi Indonesia Iwan Hermawan membenarkan, saat ini hampir tidak ada guru sosiologi yang memiliki latar belakang keilmuan sama dengan yang diampunya. "Mayoritas justru dari geografi, filsafat, dan sosial pendidikan. Di Bandung, dari 32 guru sosiologi SMA, tidak satu pun berlatar belakang pendidikan sosiologi," tutur guru sosiologi SMAN 9 Kota Bandung ini.

Dengan kondisi ini, berat bagi mereka untuk menjadi profesional. Berdasarkan pengalaman sertifikasi guru di Jabar, guru-guru sosiologi yang ada hanya memahami apa yang ada pada buku paket. Mereka pun kurang memahami konsep dan teori sosiologi secara utuh.

Salah satu pemicu utama persoalan ini adalah tidak adanya perguruan tinggi di Jabar yang punya program studi pendidikan sosiologi. Cukup melegakan, baru-baru ini Universitas Pendidikan Indonesia telah meluncurkan program Pendidikan Sosiologi.


Editor : latief
Sumber: