Minggu, 23 November 2014

News / Edukasi

Pendidikan Karakter Harus Holistis

Jumat, 15 Januari 2010 | 11:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tekad pemerintah menjadikan pengembangan karakter dan budaya bangsa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional harus dimaknai serius karena butuh banyak pengorbanan.

"Sebab, syaratnya, pendidikan karakter itu harus holistik, tidak bisa terpisah dengan yang sifatnya kognitif atau akademik," ujar praktisi pendidikan, Dr Anita Lie, di Jakarta, Jumat (15/1/12010).

Peraih gelar Doktor Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University, Texas, Amerika Serikat, ini menambahkan bahwa pendidikan karakter sebaiknya tidak dikotomikan macam-macam. Dia katakan, konsep pendidikan tersebut harus diintegrasikan ke dalam kurikulum.

"Memang, selama ini bimbingan karakter sudah ada di sekolah seperti konseling, tetapi itu bervariasi. Di sekolah guru BP tidak bisa meraih semua, kalau ada masalah datang, kalau tidak, ya, tidak," ujarnya.

Selain itu, lanjut Anita, tidak jarang keberadaan guru bimbingan dan penyuluhan (BP) kadang dirangkap oleh guru mata pelajaran. Akhirnya, konsep pendidikan karakter sampai sejauh ini tidak pernah optimal.

Seperti diberitakan sebelumnya, persoalan mengenai pendidikan karakter dan budaya bangsa mengemuka dalam "Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa" yang diadakan Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta, Kamis (14/1/2010).

Di acara tersebut Mendiknas mengatakan, kerisauan dan kerinduan banyak pihak untuk kembali memperkuat pendidikan karakter dan budaya bangsa direspons dengan baik. Pemerintah membutuhkan masukan, antara lain, menyangkut model-model pengembangan karakter dan budaya bangsa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional.


Editor : latief