Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 02:26 WIB
Guru Besar UI: Konstruksi Realitas Kian Bebas
Luki Aulia | latief | Rabu, 27 Januari 2010 | 14:23 WIB
|
Share:

shutterstock
Ilustrasi: Tanpa ada batasan, kini masyarakat bisa membuat wacana apa saja yang disukai mulai dari urusan pribadi, hubungan sosial, isu global, hingga ke masalah moral.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Komunikasi kini tidak melulu mengenai proses pengiriman pesan atau mempresentasikan realitas, tetapi juga melakukan konstruksi pesan atau realitas.

"Membuat wacana tidak peduli tempat dan waktu, mesin komunikasi dapat diaktifkan dengan sangat mudah di darat, laut, dan udara"
-- Ibnu Hamad

Pada awalnya konstruksi realitas hanya bisa dilakukan kalangan profesional seperti media massa, akademisi, peneliti, atau sastrawan. Namun kini, dengan perkembangan teknologi yang ada, siapa saja dapat melakukan konstruksi realitas.

Demikian pidato berjudul Komunikasi sebagai Wacana: Teori dan Praktik yang dikemukakan Ibnu Hamad dalam Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Rabu (27/1/2010), di Kampus UI Depok. Bersama dengan Ibnu, Hamdi Muluk juga dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Psikologi dengan judul pidato Menghidupkan Kembali Publik: Perspektif Psikologi Politik.

Dalam konsep komunikasi sebagai wacana, partisipan dalam komunikasi melakukan konstruksi realitas dengan menyusun fakta sedemikian rupa sehingga akan membentuk cerita yang bermakna. Dengan teknologi komunikasi informasi yang semakin berkembang, semakin banyak orang yang menjadi pelaku konstruksi realitas sebagai pembuat wacana.

"Kapan saja dan dimana saja kita sekarang dapat membuat wacana. Tidak peduli tempat dan waktu, mesin komunikasi dapat diaktifkan dengan sangat mudah di darat, laut, dan udara. Cukup dengan telepon genggam sekarang orang bisa membuat wacana dalam bentuk SMS, surat elektronik, atau sekadar bincang-bincang," kata Ibnu.

Tanpa ada batasan, kini masyarakat bisa membuat wacana apa saja yang disukai mulai dari urusan pribadi, hubungan sosial, isu global, hingga ke masalah moral. Konvergensi ini dinilai Ibnu telah mengubah cara orang membuat wacana.

Dahulu para profesional yang masih konvensional membutuhkan ruang dan waktu yang khusus ketika melakukan konstruksi realitas. "Sekarang, dengan konvergensi itu orang bisa melakukannya sambil berjalan, duduk, berbaring, sendirian, atau bahkan sambil bergaul kumpul-kumpul dengan teman di kafe," papar Ibnu.