Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 13:12 WIB
Museum dan Generasi Muda
| Senin, 8 Februari 2010 | 15:23 WIB
|
Share:

Oleh DJASEPUDIN

Citra museum yang serba suram, lembab, ketinggalan, dan menakutkan masih tersimpan dan bertahan dalam ingatan sebagian besar masyarakat kita. Museum belum menjadi tempat yang nyaman sebagai media pendidikan dan hiburan yang mengasyikkan.

Bahkan, banyak warga yang bertempat tinggal di sekitar museum belum berkunjung ke museum. "Saya saja yang orang sini belum sekalipun datang ke museum. Menakutkan Sri Baduga, teh." Ujar Eka, penduduk Bandung yang tinggal di sekitar Museum Negeri Sri Baduga, Bandung, tepatnya di bilangan Jalan Inhoftank.

Begitu juga dengan salah seorang loper koran, Teten, yang sering mengambil barang dagangannya di bursa koran dan majalah di kawasan Cikapundung, Bandung. "Abdi tacan kungsi asup ka musium, padahal saban poe sok ngaliwatan gedong Merdeka," kata Teten yang belum pernah berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) meskipun setiap hari dia sering berjalan melewati museum tersebut.

Citra museum yang serba negatif itu mesti segera dibenahi. Museum bukan melulu tempat menyimpan barang-barang yang serba zaman dulu (jadul). Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil dari peradaban baheula untuk kepentingan masa depan.

Filosofi Sunda mengatakan, dinu kiwari ngancik nu bihari, seja ayeuna sampeureun jaga, yang berarti sesuatu yang ada dan terjadi sekarang sejatinya tersimpan roh masa silam, sesuatu yang dikerjakan sekarang akan berbuah pada masa yang akan datang.

Namun, filosofi tak akan berasa dan bermakna jika museum masih sepi pengunjung. Oleh karena itu, pembenahan citra museum harus segera dilaksanakan.

Jemput bola

Menurut mantan Kepala Museum Negeri Sri Baduga Dedy S Warmana, untuk menarik masyarakat datang ke museum perlu dilakukan jemput bola. Jika perlu, untuk menarik masyarakat agar berkunjung ke museum, koleksi-koleksi museum dipamerkan di tempat umum, misalnya koleksi Museum Sri Baduga dipamerkan di pusat perbelanjaan di Bandung atau kota besar lainnya.

Hal senada diungkapkan mantan Kepala Museum KAA Boedi S Poerwohadikoesoemo. Untuk menarik publik datang ke museum, pihak museum mesti bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama ikut serta dalam berbagai kegiatan kebudayaan, seperti Asia Africa Art Festival (AAAF) yang pernah digelar tahun 2006.

Boedi berpesan, masyarakat jangan segan atau takut datang ke museum, termasuk datang ke Museum KAA. Museum KAA selalu terbuka bagi siapa saja untuk meneliti, belajar, atau sekadar hiburan melalui benda dan peristiwa sejarah.

Sebagai catatan saja, di Museum KAA terdapat ruangan pameran tetap. Di ruangan itu dipamerkan sejumlah koleksi benda tiga dimensi, foto-foto dokumenter peristiwa Pertemuan Tugu, Koferensi Kolombo, Konferensi Bogor, dan Konferensi KAA tahun 1955.

Berbarengan dengan berdirinya ruang perpustakaan, berdiri juga ruang audiovisual. Ruangan yang dirintis Abdullah Kamil itu untuk memutar film-film dokumenter tentang situasi dunia hingga tahun 1950-an. Ada juga film-film mengenai kebudayaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika

Museum Sri Baduga memiliki lebih dari 6.000 koleksi dan dapat dikategorikan ke dalam sepuluh jenis: geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numisamatika/heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, teknologika.

Barang-barang tersebut dipamerkan di tiga lantai, yang setiap lantainya memamerkan koleksi yang bertalian dengan sejarah alam dan budaya Jawa Barat.

Konser musik

Manajemen museum pun ada baiknya mengubah tampilan fisiknya. Tak akan diharamkan jika warna dasar museum didominasi warna-warna ngejreng, misalnya. Hal itu untuk mendekatkan dunia anak muda, terutama anak-anak yang masih belia.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah mengadakan konser kesenian band kenamaan di lingkungan museum, misalnya. Menghadirkan grup band Lyla atau ST12 di halaman Museum Sri Baduga dan Museum KAA, saya pikir, akan menyedot animo masyarakat datang ke museum.

Konsekuensinya, tiket menyaksikan band tersebut bukan sejumlah uang, melainkan setiap pengunjung menulis/mendeskripsikan koleksi/peristiwa sejarah yang ada di setiap museum.

Nah, jika anak-anak muda sudah datang ke museum, buatlah mereka nyaman hingga merasa enggan untuk cepat-cepat meninggalkan museum. Tentu faktor utamanya adalah ihwal pelayanan.

Pelayanan yang mesti dikuasai petugas museum, salah satunya, adalah penguasaan pengetahuan yang mumpuni akan sejumlah benda koleksi. Pengunjung akan merasa terpuaskan jika segala sesuatu yang tidak diketahui dijelaskan dengan jelas, runut, dan lengkap oleh petugas museum.

Jangan sampai terjadi lagi kasus seperti ketika pengunjung museum menanyakan asal-usul benda koleksi atau peristiwa sejarah, petugas yang ditanya hanya rungah-ringeuh teu puguh alias celingak-celinguk enggak jelas karena dia sendiri pun memang tidak tahu.

Upaya itu, saya pikir, meskipun sederhana, hasilnya akan bermakna untuk kelangsungan permuseuman kita demi majunya generasi muda yang kelak mengelola bangsa dan negara. DJASEPUDIN Pengunjung Museum