BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com - Sekitar 100 orang mahasiswa Universitas Lampung berunjuk rasa di lingkungan kampus tersebut, Selasa (9/2) pagi. Mereka menentang kebijakan kampus yang mereka nilai memasung kreativitas mahasiswa.
Aksi unjuk rasa yang berlangsung pukul 09.30 tersebut pada awalnya dimulai di bundaran air mancur Universitas Lampung (Unila). Seratusan mahasiswa tersebut kemudian berjalan kaki menuju halaman depan gedung Rektor Unila.
Dalam aksinya, mahasiswa menyerukan kebijakan Rektor Unila yang memasung kreativitas mahasiswa. Di antaranya dengan menerapkan jam malam di lingkungan kampus.
Pemantauan di lingkungan kampus, saat ini pihak kampus Unila memasang portal di jalan-jalan utama di lingkungan kampus. Di dekat portal terdapat tulisan jam-jam khusus portal akan difungsikan, khususnya di malam sampai dengan pagi hari.
Andry Kurniawan, Koordinator Forum Komunikasi se-Unila, Selasa pagi mengatakan, pemasangan portal tersebut tidak masuk akal. Portal difungsikan tepat jam 22.00 sementara mahasiswa masih banyak yang berakti vitas dengan kegiatan unit mahasiswa, dan mahasiswa harus melapor kepada satpam apabila hendak beraktivitas. Sementara di siang hari, portal dibuka, bebas, dan siapapun boleh masuk.
"Dalam hal ini, kami mempertanyakan, sudahkah satpam bertanggungjawab?" ujar Andry.
Ia menjelaskan, pada hari libur portal bahkan ditutup total. Hal tersebut jelas membatasi ruang gerak mahasiswa di Unila.
Para mahasiswa tersebut menyatakan, pihak rektorat seperti menara gading yang membuat kebijakan tanpa mendiskusikannya dengan mahasiswa.
Untuk itu, ujar Andry, gabungan mahasiswa dari berbagai unit kegiatan tersebut menuntut pihak rektorat untuk mencabut surat keputusan pemberlakuan portal dan jam malam kampus, menolak segala bentuk pengekangan terh adap kegiatan kemahasiswaan, memperbaiki sarana dan prasarana perkuliahan di tingkat fakultas, serta menolak penyempitan ruang gerak unit kegiatan mahasiswa.
Aksi unjuk rasa tersebut sempat terhenti setelah perwakilan mahasiswa bertemu dengan Pembantu Rektor III Unila Sunarto mengatakan, seharusnya mahasiswa tidak perlu sampai berunjuk rasa. Ia berjanji akan menjadi fasilitator bagi mahasiswa dengan pihak rektorat untuk membicarakan kebijakan yang ditolak mahasiswa tersebut.

