JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) meninjau ulang jalur masuk calon mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) dianggap sebagai suatu dinamika untuk mencari jalan tengah dalam rangka membangun kredibilitas siswa-siswi SMA yang ingin menimba ilmu di perguruan tinggi.
Demikian dikatakan Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kemdiknas Muhadjir di Jakarta kepada Kompas.com, Rabu (10/2/2010), menanggapi sikap sejumlah pemimpin PTN yang menolak rencana Kemdiknas meninjau ulang jalur masuk calon mahasiswa baru.
Muhadjir mengatakan, rencana tersebut merupakan upaya pemerintah untuk membangun kepercayan masyarakat terhadap perguruan tinggi. Selama ini, kata dia, dari tingkat taman kanak-kanak ke SD, lalu SD ke SMP, kemudian dari SMP ke SMA tidak ada kesulitan.
"Lalu kenapa untuk masuk ke perguruan tinggi sebagai jenjang yang paling akhir itu malah sulit sekali, ruwet sekali. Hubungan antara jenjang SMA ke PTN itu seperti ada dinding yang tebal," kata Muhadjir.
Dia menambahkan, amat disayangkan jika setelah para siswa menempuh Ujian Nasional (UN) sebagai saringan nasional itu masih harus menghadapi permasalahan ini. Memang, tambah Muhadjir, perguruan tinggi memiliki otonomi dan kewenangan sendiri dalam menentukan seleksi mahasiswanya seperti yang diatur dalam Permendiknas No 6 Tahun 2008.
"Hanya saja, otonomi itu ada batasnya. Pemerintah ingin meninjau ulang ini untuk mencari kesepakatan, tetapi tanpa membabankan bibit, bebet, dan bobot anak-anak didik," ujarnya.
Dia menambahkan, rencana pemerintah untuk meninjau ulang tersebut adalah lebih kepada upaya untuk membenahi mekanime penerimaan atau seleksi tersebut. Upaya itu perlu dibangun tanpa mengurangi nilai-nilai mutu pendidikan.
"Mestinya PTN itu bisa mempermudah, tetapi tanpa harus mengorbankan kualitas. Kita ingin ada dialog lebih lanjut," kata Muhadjir.

