Dok. Pribadi
Meletakkan jabatan profesor adalah konsekuensi paling berat dari perbuatan kurang terpuji yang dilakukan Banyu, yang selama ini dikenal aktif menulis di media massa.
BANDUNG, KOMPAS.com — Keputusan Banyu Perwita yang memilih mengundurkan diri sebagai dosen di almamater yang telah membesarkannya ternyata berbuntut panjang. Para mahasiswa program sarjana ataupun pascasarjana yang selama ini ikut bimbingan skripsi atau tesis kepadanya kini kebingungan.
"Saya baru sempat bimbingan sekali. Sehabis seminar. Baru mau bimbingan awal bab I, eh keburu muncul kasus ini. Jadi bingung sekarang, mau ditransfer ke siapa," tutur Melita Andini (21), mahasiswi HI Unpar yang mengambil skripsi di bidang kajian strategis, Rabu (10/2/2010).
Bidang itu adalah salah satu keahlian khas dari Banyu Perwita. Bahkan, disebut-sebut, Banyu adalah the special one di bidang tersebut. Berdasarkan penelusuruan Kompas, setidaknya mahasiswa bimbingannya di S-1 ada 15 orang. Itu belum termasuk limpahan, yaitu tujuh orang lagi, dan mahasiswa pascasarjana. "Yang lebih kasihan lagi, kan, bagi yang sudah setengah jalan (skripsinya)," tuturnya.
Hingga saat ini pihak Unpar sendiri belum memberikan keterangan resmi perihal rencana penggantian dosen. Namun, diyakini akan sangat sulit mendapatkan pengganti Banyu nantinya. Jadi, kemungkinan kegiatan mengajar, terutama terkait mata kuliah yang dipegangnya, bisa terganggu.
Banyu sendiri sejak awal pekan ini sudah tidak lagi terlihat mengajar di kampus. Secara resmi, ia menyatakan pengunduran diri kepada pihak rektorat per 8 Februari.

