YOGYAKARTA, KOMPAS - Penjagaan soal ujian nasional akan melibatkan kepolisian. Hal ini untuk mengantisipasi peluang kebocoran soal UN baik dalam proses distribusi maupun penyimpanan di sekolah. Distribusi soal-soal ujian nasional (UN) ke seluruh wilayah DIY dimulai Sabtu (20/3). Dari percetakan, soal akan diantarkan ke 29 SMA/SMK yang ditunjuk menjadi koordinator kelompok kerja. "Distribusi kali ini akan menggunakan enam truk. Setiap truk diawasi delapan orang," kata Ketua Pelaksana UN DIY Baskara Aji di Yogyakarta, Kamis.
Para pengawas distribusi soal terdiri atas dua petugas kepolisian; satu petugas dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY; satu petugas dari Kantor Wilayah Departemen Agama DIY; dan dua awak truk. Distribusi soal UN ini berlangsung serentak ke semua daerah di DIY. Baskara mengatakan, distribusi ini dilakukan untuk semua soal UN mulai dari mata uji hari pertama sampai hari terakhir. Tingkat SMA, UN berlangsung lima hari mulai 22 Maret. Adapun SMK, UN berlangsung empat hari dari hari yang sama.
Menurut Baskara, potensi kebocoran soal saat disimpan memang lebih besar daripada ketika distribusi. Hal ini mengingat waktu penyimpanan cukup lama, yaitu berkisar 6-7 hari di sekolah dengan pemantauan yang relatif lebih sulit. "Alternatif lain memang distribusi harian. Tapi, untuk distribusi harian, waktu dan petugas kami tidak akan memenuhi," ujarnya.
Untuk mengantisipasi kebocoran, dinas pendidikan kota dan kabupaten diimbau terus memantau penyimpanan. Sekolah juga harus memenuhi prosedur penyimpanan soal seperti ketentuan.
Kecil
Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Syamsury menjamin kemungkinan kebocoran soal UN di Yogyakarta sangat kecil. Pihaknya telah meminta polsek setempat untuk mengamankan penyimpanan soal UN di sekolah.
Di Yogyakarta terdapat tiga SMA dan empat SMK yang akan digunakan sebagai tempat penyimpanan soal UN. "Kami tidak mau banyak-banyak petugas kepolisian karena khawatir membuat siswa takut," ujarnya.
Menurut Syamsury, penyimpanan soal UN di sekolah telah dibuat berlapis-lapis. Setelah sampai, soal harus dihitung dan didata di bawah pengawasan tim pengawas UN. Soal lalu disimpan dalam ruangan dengan minimal dua buah kunci. Kunci ruang penyimpanan harus dibawa dua pihak yang berbeda. Satu kunci dibawa pihak sekolah, sedangkan kunci lainnya pihak pengaman. Dengan demikian, ruangan tidak bisa dibuka oleh satu pihak saja. Selain itu, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta juga akan mengadakan pantauan di sekolah penyimpan soal UN setiap malam hingga hari terakhir UN. (IRE)

