JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap siswa berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusif PGRI 3, Pondok Labu, Jakarta Selatan, menempuh ujian nasional dengan dibantu seorang pendamping dan seorang pengawas. Berdasarkan pantauan Kompas.com, Senin (22/3/2010), empat siswa tunanetra dan seorang siswa low vision (daya pengelihatan rendah) di SMA inklusif tersebut mengerjakan soal UN di ruangan terpisah dengan siswa lainnya.
Masing-masing pendamping mereka membacakan soal UN yang tercetak dalam huruf braille. "Pendampingnya dari Yayasan Mitra Netra yang menerjemahkan dari jawaban braille ke LJUN, lembar jawaban," ujar Kepala SMA PGRI 3 Jakarta Achmad Sjamsuri saat ditemui di SMA PGRI 3, Jakarta, Senin.
Selain dibantu pendamping, tiap-tiap siswa berkebutuhan khusus peserta UN tersebut juga diawasi seorang pengawas. "Jadi, satu meja ada tiga orang, satu pendamping, peserta, dan pengawas," ujar Tim Pemantau Independen di SMA PGRI 3, Mariana Citra.
Hingga berita ini diturunkan, para peserta UN masih sibuk mengerjakan soal. Menurut keterangan Tim Pemantau Independen, tidak ada seorang pun yang boleh memasuki ruangan kelas selain peserta dan pengawas, tanpa izin tim pemantau.
SMA PGRI 3 yang terletak di Pondok Labu, Jakarta Selatan, ini merupakan salah satu sekolah inklusif yang mencampur siswa berkebutuhan khusus dengan siswa normal lainnya. "Kami menganggap mereka sama dengan yang lain, tidak boleh dibedakan," kata Achmad.
Hari ini, semua siswa SMA melaksanakan ujian nasional hari pertama secara serentak di seluruh Indonesia. Untuk hari pertama, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Biologi untuk jurusan IPA, dan Sosiologi untuk jurusan IPS.

