Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 15:11 WIB
Penelitian RSBI
Makna "Internasional" Terlalu Sempit
LTF | Latief | Rabu, 2 Juni 2010 | 14:16 WIB
|
Share:

M.LATIEF/KOMPAS IMAGES
Ilustrasi: Seharusnya, tujuan internasionalisasi pada RSBI/SBI itu tersebut justeru untuk mempererat kerjasama internasional dan membentuk critical thinking pada anak-anak didik, bukan bersaing di tingkat internasional.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengertian tentang konsep "pendidikan bertaraf internasional" yang digulirkan oleh Pemerintah Indonesia masih terlalu sempit. Dari beberapa dokumen resmi yang ditemukan, tujuan dari pendidikan tersebut adalah untuk menciptakan lulusan yang mampu "bersaing pada tingkat internasional".

Sebenarnya pendidikan internasional bertujuan untuk menciptakan lulusan yang bisa menjadi duta bagi negara. SBI tidak memerhatikan hal-hal ini.
-- Hywel Coleman

Demikian beberapa catatan yang diambil oleh Kompas.com dari hasil penelitian Hywel Coleman, peneliti senior bidang pendidikan keguruan di University of Leeds, Inggris, selama kurun waktu 2009-2010. Hasil penelitian yang telah dibukukan dan diterbitkan oleh British Council Asia Tenggara berjudul Teaching other Subjects through English in Two Asian Nations: Teacher's Response to Globalisation itu sangat relevan dengan perjalanan sekolah-sekolah negeri di Indonesia yang berstatus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional (SBI).

Hywel mengungkapkan, dari tujuan dibentuknya konsep pendidikan bertaraf internasional itu seolah-olah hubungan Indonesia dengan bangsa-bangsa lain adalah hubungan persaingan saja. Seharusnya, tujuan internasionalisasi tersebut justru untuk mempererat kerja sama internasional dan membentuk critical thinking pada anak-anak didik.

"Sebenarnya pendidikan internasional bertujuan untuk menciptakan lulusan yang bisa menjadi duta bagi negara, yang dapat memahami dan bekerja sama dengan bangsa lain, yang bisa memainkan peran dalam pembangunan dunia yang damai dan sejahtera. Sayang sekali, SBI yang sudah ada hampir tidak pernah memerhatikan hal-hal ini," kata Hywel dalam penelitiannya itu.