Minggu, 23 November 2014

News / Edukasi

Akses Pendidikan Masyarakat Terpencil

Yayasan Indonesia Mengajar Kirim Sarjana

Jumat, 4 Juni 2010 | 20:56 WIB

Terkait

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Terinspirasi gerakan pengiriman sarjana untuk mengajar di daerah-daerah terpencil sekitar tahun 1950, Yayasan Indonesia Mengajar mengirimkan sarjana-sarjana pandai untuk mengajar sekolah dasar di berbagai daerah terpencil di Indonesia. Gerakan ini diharapkan membuka akses pendidikan pada masyarakat terpencil dan berekonomi lemah.

Tahun 2010 ini, sebanyak 50 orang pengajar muda telah dikirimkan ke lima kabupaten, yaitu Bengkalis di Riau, Tulang Bawang di Lampung, Passer di Kalimantan Timur, Majene di Sulawesi Barat, dan Halmahera di Maluku Utara.

"Para pengajar muda ini bertugas selama setahun saja," tidak lebih dari itu, kata Pendiri Yayasan Indonesia Mengajar yang juga Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dalam diskusi publik yang diselenggarakan Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Equilibrium Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (4/6/10).

Kualifikasi perekrutan pengajar muda dibuat cukup tinggi, yaitu sarjana berusia 25 tahun dengan indeks prestasi kumulatif minimal tiga. Kualifikasi yang tinggi diterapkan karena para peserta pengajar muda diharapkan menjadi teladan dan inspirasi bagi masyarakat tempatnya bekerja.

Selain mengajar, para pengajar muda bertugas untuk mengenalkan kemajuan di daerah lain di Indonesia. Mereka juga diharapkan membuka akses pendidikan di daerah terpencil tersebut.

Anies mengatakan, tujuan utama dari gerakan Indonesia Mengajar ini adalah mengembalikan fungsi pendidikan sebagai instrumen untuk meningkatkan status sosial masyarakat. Hal ini pernah dilakukan sekitar tahun 1950 dengan program pemerintah Pengiriman Tenaga Mahasiswa (PTM).

Selama kurun waktu 1951-1952, PTM berhasil mengirimkan 1.487 mahasiswa untuk mengajar di 161 sekolah lan jutan tingkat atas di 97 daerah terpencil di luar Jawa. Hasil dari program PTM ini adalah meningkatnya jumlah mahasiswa dari kalangan masyarakat biasa yang terinspirasi atau terbantu untuk kuliah. Sebelumnya, hanya bangsawan dan orang berada saja yang bisa menjadi mahasiswa, ujarnya.

Program PTM tersebut telah berhasil meningkatkan status masyarakat miskin dan tidak terdidik menjadi kalangan menengah yang mandiri secara ekonomi dan sosial. Menurut Anies, saat ini gerakan PTM perlu dibangkitkan lagi. Mahalnya pendidikan yang terjadi saat ini membuat masyarakat miskin semakin kesulitan berkuliah.

Statistik pendidikan menunjukkan, dari 4,6 juta anak yang mendaftar SD, hanya sekitar 6,5 persen di antaranya yang berhasil lulus perguruan tinggi dengan populasi tertinggi di daerah tingkat ekonomi menengah ke atas. Artinya, kalangan mahasiswa semakin terbatas pada kalangan masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi.

Ketua BPPM Equilibrium Rahmia Hasniasari mengatakan, diskusi pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan perhatian mahasiswa di bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia masih menghadapi banyak permasalahan, mulai dari kesenjangan sarana pendidikan hingga kompetensi pelajar Indonesia yang masih rendah.

Jumlah perguruan tinggi, misalnya, hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Di daerah lain, jumlah perguruan tinggi masih rendah. Papua hanya punya 1,7 persen dari total perguruan tinggi yang ada, katanya.


Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo