Rabu, 3 September 2014

News / Edukasi

Indikator bagi Kualitas Perguruan Tinggi

Sabtu, 26 Juni 2010 | 07:26 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Pengamat pendidikan Universitas Diponegoro Semarang, Prof. Y. Warella, menilai, relatif banyak indikator untuk menilai kualitas suatu perguruan tinggi, apalagi untuk ukuran kualitas dunia.       "Setiap lembaga memiliki indikator penilaian yang berbeda dengan lembaga-lembaga lain, karena itu indikator suatu perguruan tinggi dinilai sebagai berkelas dunia menjadi beragam," katanya di Semarang, Sabtu (26/6/2010).

Menurut dia, berbagai indikator yang ditetapkan suatu lembaga sebenarnya dapat dijadikan sebagai tolok ukur kualitas suatu perguruan tinggi, namun terkadang ada beberapa indikator yang terkesan tidak relevan.       "Ada lembaga yang menjadikan fasilitas kolam renang salah satu indikator, atau gelanggang olahraga, tentunya hal itu tidak berkaitan langsung dengan penilaian kelas dunia bagi perguruan tinggi," katanya.       Namun, kata dia, bukan berarti suatu perguruan tinggi harus bersikap antipati dengan penilaian yang akan diproses menjadi pemeringkatan itu, karena ada beberapa indikator bersifat objektif yang bisa menjadi patokan. Ia menyebutkan beberapa indikator objektif suatu perguruan tinggi dikatakan berkelas dunia, antara lain berapa banyak guru besar yang dimiliki dan karya-karya ilmiah spektakuler yang masuk dalam jurnal nasional.       "Kalau banyak guru besar yang mengajar di luar negeri dan sebaliknya banyak guru besar luar negeri yang mengajar di suatu perguruan tinggi, berarti perguruan tinggi itu dikenal dan dipercaya secara luas," katanya.       Terkait karya-karya ilmiah, kata dia, semakin banyak karya yang diterbitkan dalam jurnal internasional dan sudah dipatenkan, tentu menjadikan perguruan tinggi tersebut diakui oleh kalangan internasional.       "Demikian juga jumlah mahasiswa asing yang berkuliah di perguruan tinggi tersebut dan sebaliknya berapa mahasiswa yang berkuliah di luar negeri. Itu bisa dijadikan ukuran penilaian kualitas perguruan tinggi," katanya.       Selain itu, kata Warella yang juga Direktur Program Pascasarjana Undip Semarang itu, banyak indikator objektif lain yang bisa dijadikan patokan, seperti rasio mahasiswa pascasarjana lebih besar dari mahasiswa sarjana, dan tokoh yang meraih Nobel.       Menurut dia, peran pascasarjana dalam peningkatan mutu sangat besar dan hal itu pula yang mendasari Pertemuan Pimpinan Pascasarjana Perguruan Tinggi Negeri Se-Indonesia Ke-32 yang akan diselenggarakan pada 28 Juni-1 Juli 2010.       "Kebetulan, kami ditunjuk sebagai tuan rumah ajang itu dan tema yang akan diangkat nantinya adalah ’Penajaman Peran Pendidikan Pascasarjana untuk mendukung ’World Class University’," kata Warella.


Editor : Jimmy Hitipeuw
Sumber: