JAKARTA, KOMPAS.com — Kepanikan orangtua calon siswa SMA/SMK negeri di Jakarta makin menjadi-jadi. Mereka tampak resah menunggu di halaman samping SMK Negeri 20 Jakarta Selatan. Keresahan menjadi pemersatu di antara mereka, meski persoalan yang dihadapinya berbeda-beda.
Beberapa dari mereka resah karena sudah memegang bukti tanda terima pendaftaran tahap I calon peserta didik baru SMK negeri, tetapi namanya tidak terdaftar ketika dikonfirmasi di laman PPDB. Sebagian besar lagi justru resah karena bukti pendaftaran pun belum ada di tangan. Lho?
Suparmi masih bertekad menunggu di halaman sekolah bersama putranya. Dia mengaku pusing karena bukti pendaftaran saja belum dipegang. "Padahal kami daftar pada hari pertama, lho. Sampai sekarang belum ada bukti pendaftarannya sama sekali," tuturnya, Sabtu (3/7/2010).
Suparmi mendaftarkan putranya pada hari pertama pendaftaran, Kamis lalu, dengan nomor pendaftaran 0503. Namun, sampai hari Sabtu, tanda bukti pendaftaran tidak kunjung diterima.
Masalahnya, selembar kertas print out yang menjadi bukti pendaftaran itu sangat penting andaikata anaknya diterima di salah satu SMK yang dipilihnya. Suparmi cukup optimistis karena nilai akhir surat keterangan hasil ujian (SKHU) anaknya mencapai angka 32,90.
"Pokoknya saya tunggu saja sampai pukul 12.00 ini. Kalau belum juga, nanti kami pulang dulu. Ntar sore datang lagi," kata warga Kompleks Kodam Tanah Kusir yang sudah menunggu sejak pukul 08.00 ini.
Kepastian bukti pendaftaran juga dinanti oleh Arif Hidayat, warga Pondok Cabe. Dia datang bersama putrinya untuk mencari konfirmasi mengenai bukti pendaftaran. Arif mengaku telah mendaftarkan putrinya pada hari kedua, Jumat kemarin. Namun, hingga kini bukti pendaftaran pun belum dia terima.
"Kami kan jadinya was-was. Enggak ada kejelasan," ungkapnya. Arif juga optimistis. Pasalnya nilai SKHU anaknya mencapai 33,21. Tapi dia memilih pulang ke rumah dulu dan berencana datang lagi nanti sore. Keterangan dari panitia PPDB sudah cukup dia diterima dan sulit didebat lagi. "Katanya sistem komputernya masih eror," ungkapnya.
Para orangtua calon murid cuma bisa mengelus dada. Kalau bukan demi masa depan putra-putrinya untuk bersekolah di sekolah negeri, mereka mengaku sulit kompromi dengan lamanya proses pendaftaran yang katanya berbasis komputerisasi ini....

