Kamis, 24 April 2014

News / Edukasi

Orang Berduit Berebut Masuk Kedokteran

Rabu, 28 Juli 2010 | 13:47 WIB

Baca juga

MALANG, KOMPAS.com — Meskipun dibanderol setinggi langit, ratusan anak dari kalangan kaya masih berebut kesempatan menempuh pendidikan di fakultas kedokteran yang terkenal mahal. Tak percaya? 

Tengoklah di Universitas Brawijaya (Unibraw), misalnya. Saat ini, ada 693 siswa yang mendaftar di seleksi program minat dan kemampuan (SPMK) Fakultas Kedokteran Unibraw. Adapun SPMK adalah jalur alternatif masuk ke Unibraw atau di luar SNMPTN.

Namanya jalur alternatif, tentu saja biaya pendidikan yang dipatok lebih mahal dari jalur reguler (SNMPTN). Untuk fakultas kedokteran, biaya yang harus dibayar di semester pertama menembus Rp 134 juta. Kalau disetarakan dengan dana BOS, uang sebanyak itu cukup untuk menyekolahkan 56 siswa SD di Kota Malang sampai lulus. Atau, biaya itu nyaris setara dengan beasiswa yang diterima seorang siswa di SMA Sampoerna Academy Sawojajar, juga sampai tamat sekolah.

Namun, "ngebetnya" masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah calon dokter itu ternyata tak hanya di perguruan tinggi negeri (PTN). Di fakultas kedokteran kampus swasta, seperti Universitas Islam Malang (Unisma), juga kebanjiran peminat. Bahkan, Rektor Unisma Abdul Mukri Prabowo mengaku pihaknya sampai menolak lebih dari 400 pelamar di fakultas kedokteran tahun ini.

"Peminat ada 500 lebih, sementara kuota kami hanya ada 100. Itu pun sudah kami tambah karena tahun lalu kami masih menerima sekitar 50 saja di fakultas ini," kata Mukri, Selasa kemarin.

Padahal, kata dia, biaya pendidikan di Unisma tak kalah tingginya. Untuk masuk ke fakultas ini dibedakan dalam empat gelombang yang masing-masing memberikan harga berlainan, yakni Rp 75 juta, Rp 95 juta, Rp 105 juta, dan Rp 125 juta. Semakin awal mendaftar, semakin murah.

Sementara itu, Pembantu Rektor I Unibraw Bambang Suharto mengatakan, wajar kalau kedokteran menjadi primadona masyarakat. Alasannya, dokter tetaplah sebuah profesi yang menjanjikan. Ini bisa dilihat dari umumnya para dokter yang hidup berkecukupan.

"Lulusan kedokteran itu tidak perlu pusing cari pekerjaan, mereka bisa buka praktik sendiri," kata Bambang.

Bambang juga mengungkapkan, pendidikan dokter memang memakan biaya yang sangat besar. Ditambah, kata dia, pihaknya memang memerlukan dana untuk menyubsidi mahasiswa tak mampu.

"Kalau hanya mengandalkan biaya pendidikan dari jalur reguler, kami jelas tidak bisa memenuhinya," kata Bambang. (nab)


Editor : Latief
Sumber: