JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Begitulah mungkin pepatah yang tepat untuk menggambarkan dua persoalan beruntun untuk segera dituntaskan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta itu. Pasalnya, belum selesai kasus kekacauan server pada pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) online awal Juli lalu, kini permasalahan lain kembali mencuat, yaitu intimidasi orangtua murid dan anak-anaknya oleh pihak SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi, Kasie Dinas Pendidikan 02 Pulogadung, serta SMPN 99 Jakarta Timur.
Hanya, dari kedua persoalan tersebut, Kepala Dinas DKI Taufik Yudi Mulyanto, terlihat belum juga ambil tindakan. Tidak mengherankan, jika tidak dianggap tuli atau tidak bisa mendengar keluhan serta laporan pelanggaran yang dilakukan anak buahnya, Taufik, diberi cotton buds atau korek kuping raksasa dari para orang tua murid.
Pemberian korek kuping tersebut dilakukan para orang tua murid saat mendatangi Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Kamis (29/7/20100. Sayangnya, Kadisdik tidak sedang berada di tempat. Sebagai gantinya, alat untuk mengorek kotoran telinga tersebut diserahkan pada Kepala seksi Manajemen SMP SMA Jakarta, Lardi.
"Ini nantinya akan diserahkan pada atasan. Kami punya mekanisme dalam menangani persoalan-persoalan seperti ini. Jadi nanti kami teruskan ke atasan," ujar Lardi.
Selain menyerahkan cotton buds, para orang tua murid dari SDN RSBI 012 Rawamangun dan SMP 99 Jakarta tersebut juga meminta pihak Dinas Pendidikan DKI untuk segera mencopot Drs H Usman sebagai Kasie Dikdas Kecamatan Pulogadung karena dinilai melanggar UU No 39 tahun 1999 tentang HAM dan PP 30 tahun 1980 tentang disiplin pegawai negeri.
Tak hanya itu, mereka juga meminta Iing Ilhamudin, Kepala SMPN 99 Jakarta untuk dicopot dari jabatannya karena merasa telah habis masa jabatannya. Kedua nama tersebut dianggap telah melakukan tindakan intimidasi dan ancaman bagi orang tua murid yang dipandang terlalu kritis menyoroti persoalan transparansi pengelolaan keuangan di dua sekolah tersebut.

