DEPOK, KOMPAS.com — Banyak guru pintar dan kreatif, tetapi tidak semua kreativitas dan kepintarannya itu bisa ditularkan kepada anak-anak didiknya, bahkan untuk guru yang sudah menyandang gelar Phd sekalipun. Kreativitas guru melakukan penelitian diperlukan untuk menginspirasi peserta didik agar kreatif dan senang menyelami budaya meneliti di sekolah.
Demikian dikemukakan Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Syahrul Aiman kepada Kompas.com seusai membuka babak final Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-18 di Hotel Bumiwiyata, Depok, (2/8/2010). Dari 341 guru yang menawarkan proposal penelitiannya, hanya 25 guru yang berhasil maju ke tahap seleksi akhir ini untuk mempresentasikan hasil penelitiannya di hadapan dewan juri dari LIPI dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
"Ada guru yang sudah menamatkan S-3 jadi peserta. Tulisannya bagus sekali, penelitiannya juga bagus. Sayangnya, si guru tidak terlihat berupaya menularkan penelitiannya itu kepada anak-anak didiknya, jadi tidak masuk dalam kriteria kami," ujar Syahrul.
Adapun 25 guru yang maju ke babak final LKIG 2010 antara lain 5 guru untuk penelitian umum tingkat SD, 10 guru SMP untuk penelitian sosial dan Mipatek, serta 10 guru SMA/SMK untuk kategori Mipatek dan sosial.
"Kami harap mereka yang menang bisa menularkan kreativitasnya kepada anak didiknya. Karena memang, salah satu bobot yang kami nilai dari kreativitas mereka adalah menerapkan penelitian yang menginspirasi anak didiknya untuk berbuat serupa," kata Syahrul.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.