Minggu, 20 April 2014

News / Edukasi

Belajar Asyik ala Anak-anak Disleksia

Selasa, 3 Agustus 2010 | 11:14 WIB

Baca juga

KOMPAS.com — Meskipun memiliki IQ antara 90 dan 110 dan kecerdasan di atas rata-rata anak-anak normal, anak-anak disleksia memiliki kesulitan belajar seperti membaca, mengeja, menulis, dan menghitung. Namun, ada cara belajar yang asyik yang bisa diterapkan oleh guru-guru pengajar anak-anak disleksia.

Belajar membaca merupakan pelajaran yang sulit dilakukan anak-anak disleksia. Hal itu karena membaca merupakan kegiatan yang melibatkan kemampuan visual-auditori mereka secara bersamaan, seperti kemampuan memberikan makna simbol-simbol yang ada, yaitu huruf dan kata.

Memang, secara karakteristik, anak disleksia kerap bingung membedakan antara arah kanan dan kiri sehingga hal itu akan memengaruhi mereka membedakan huruf yang terlihat mirip seperti p, q, b, d. Mereka juga kerap merasakan terbolik-balik melihat huruf yang bentuknya mirip seperti 12 menjadi 21 atau kata "kaki" menjadi "kika".

Pada usia dini, anak-anak disleksia tersebut kesulitan belajar sistem representasionalnya, seperti menyebutkan waktu, arah, dan musim. Untuk menangani hal ini, biasanya satu kelas cukup hanya diisi oleh 10 murid dan ditangani dua guru.

Tugas belajar yang diberikan juga tidak sama. Hal itu sangat tergantung pada kemampuan anak serta kebutuhan terhadap cara belajar yang selalu kreatif dan penuh modifikasi.

“Misalnya, jika tidak bisa menggunakan cara A, kita gunakan cara B. Namun, hal itu tetap dengan target yang sama,“ ujar Wakil Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Vitriani Sumiartis kepada Kompas.com di Jakarta, Minggu (1/8/2010).

Metode penanganan

Vitri menuturkan, ada tiga model strategi pembelajaran yang bisa diterapkan terhadap anak-anak disleksia. Ketiga model tersebut antara lain Metode Multisensori, Metode Fonik (Bunyi), dan Metode Linguistik.

Menurut Vitri, metode Multisensori mendayagunakan kemampuan visual (kemampuan penglihatan), auditori (kemampuan pendengaran), kinestetik (kesadaran pada gerak), serta taktil (perabaan) pada anak.

Sementara itu, Metode Fonik atau Bunyi memanfaatkan kemampuan auditori dan visual anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyinya. Misalnya, huruf B dibunyikan eb, huruf C dibunyikan dengan ec.

"Karena anak disleksia akan berpikir, jika kata becak, maka terdiri dari b-c-a-k, kurang huruf e," kata Vitri.

Adapun Metode Linguistik, lanjut Vitri, adalah mengajarkan anak mengenal kata secara utuh. Cara ini menekankan pada kata-kata yang bermiripan. Penekanan ini diharapkan dapat membuat anak mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antara huruf dan bunyinya.

"Seorang guru harus mampu membaca kemampuan anak didiknya. Guru harus dapat memonitor progres si anak, bagus atau tidak. Jika tidak bagus, maka bisa mengambil strategi khusus," ulas Vitri.

Dia melanjutkan, setelah 2-3 bulan melakukan berbagai treatment dan masih belum mendapatkan perubahan yang bagus, si anak bisa dibawa ke dalam kelas khusus anak disleksia. Hanya, si anak sebaiknya dicek terlebih dahulu.


Editor : Latief