Senin, 22 September 2014

News /

Pengenalan Indonesia

Mahasiswa Asing Belajar Tari Etnik

Kamis, 26 Agustus 2010 | 17:03 WIB

Surabaya, Kompas - Hari Rabu (25/8) siang di Pendapa Kampung Seni Taman Hiburan Rakyat Surabaya, tampak wajah-wajah asing sedang belajar menari etnik Jawa Timur. Mereka didampingi Diaztiarni, pendiri sekaligus pelatih Sanggar Tari Studio Tydif Surabaya.

Wajah-wajah asing tersebut adalah 12 mahasiswa dari sejumlah negara yang mendapat beasiswa dari Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk mengenal lebih dekat wajah Indonesia melalui kekayaan dan keunikan seni dan budayanya. Mereka berasal dari Vanuatu, Fiji, Kepulauan Solomon, Tuvalu, Samoa, Afrika Selatan, Jerman, Vietnam, Thailand, Timor Leste, Rusia, dan Indonesia (Lampung).

"Kementerian Luar Negeri menunjuk sanggar kami untuk membina mereka selama tiga bulan tinggal dan belajar mengenal seni dan budaya Indonesia di Surabaya," kata Diaztiarni.

Sanggar tari Studio Tydif Surabaya tak sekadar memperkenalkan kekayaan, keanekaragaman, dan keunikan seni budaya Indonesia kepada 12 mahasiswa asing tersebut. Mereka juga diajari tarian etnik Jawa Timur. "Sudah setengah bulan mereka berlatih menari Glipang dan Sparkling Surabaya. Rencananya, kami akan mengajari mereka dengan tarian bernuansa etnik Madura dan etnik Banyuwangian," katanya.

Diaztiarni mengemukakan, mahasiswa dari luar negeri yang mendapat beasiswa dari Kementerian Luar Negeri tahun ini tersebar di lima daerah, yakni Surabaya, Solo (Jawa Tengah), Bandung (Jawa Barat), Bali, dan Padang Panjang (Sumatera Barat).

Para mahasiswa asing tersebut juga akan diajak belajar membuat topeng di Malang dan mengunjungi Bromo untuk mengenal lebih dekat nilai-nilai tradisi dan budaya dalam kehidupan masyarakat Tengger. "Kalau masih memungkinkan, mereka akan kami ajak berkunjung ke Banyuwangi," ujar Diaztiarni.

Diaztiarni mengaku amat berkesan dengan multikultural yang tersirat dalam kehidupan masing-masing mahasiswa dengan latar belakang budaya dan karakternya yang berbeda. "Mereka juga kami kenalkan dengan budaya Indonsia yang ramah dan santun. Bahkan kali pertama mereka berinteraksi dengan anak didik saya di sanggar tari Tydif. Mereka bertanya-tanya kenapa setiap anak kok mencium tangan saya," tuturnya. (TIF)


Editor :