Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 06:26 WIB
Kualifikasi Guru
190.000 Guru Dapat Tambahan Rp 2 Juta
Yurnaldi | Latief | Sabtu, 4 September 2010 | 10:11 WIB
|
Share:
IGNATIUS SAWABI Ilustrasi: Direktur PTK-PNF Erman Syamsudin mengatakan, saat ini ada sekitar 400 guru yang kuliah di 15 perguruan tinggi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain menjelaskan perkembangan terkini sertifikasi guru, Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Beadhowi juga menjelaskan program prioritas lain berupa peningkatan kualifikasi guru.

Jumlah sebanyak 2 juta juga memang tidak cukup, karena itu tahun depan 2011 diusulkan besaran bantuan Rp 5 juta per guru.
-- Baedhowi

Pada 2010 ini ada 190.000 guru yang diberikan bantuan senilai Rp 2 juta untuk masing-masing guru melanjutkan pendidikan di 81 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). LPTK tersebut melaksanakan pendidikan model Universitas Terbuka (UT), belajar jarak jauh.

"Jumlah sebanyak 2 juta juga memang tidak cukup, karena itu tahun depan (2011) diusulkan besaran bantuan Rp 5 juta per guru," kata Baedhowi di Jakarta, Jumat (3/9/2010).

Kemudian, kata dia, terobosan lain bagi guru yang telah melaksanakan pendidikan dan pelatihan terakreditasi adalah mengurangi beban satuan kredit semester (SKS) yang akan mereka laksanakan dengan penghargaan kegiatan hasil belajar guru.

"Ini upaya-upaya untuk percepatan kualifikasi guru menjadi sarjana," jelas Baedhowi.

Peningkatan kualifikasi tak hanya untuk guru-guru di pendidikan formal, tapi juga guru-guru di pendidikan nonformal, seperti pendidikan luar sekolah dan pendidikan anak usia dini. Untuk pendidik norformal ini, sudah sejak dua tahun terakhir dilaksanakan.

Direktur PTK-PNF Erman Syamsudin mengatakan, saat ini ada sekitar 400 guru yang kuliah di 15 perguruan tinggi. Menurut Erman, penghargaan untuk guru-guru pendidikan nonformal ini hanya sebatas insentif.

"Mereka tak mendapatkan tunjangan profesi guru. Tawaran untuk guru pendidikan nonformal untuk melanjutkan pendidikannya, banyak. Persoalannya, mereka kebanyakan tinggal di desa dan jauh dari LPTK," kata Erman.