KEDIRI, KOMPAS -
Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri mencatat dari 1.755 siswa putus sekolah didominasi pelajar sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah sebanyak 687 orang atau sekitar 1,07 persen dari jumlah siswa.
”Angka putus sekolah yang paling banyak kedua setelah SMA, adalah siswa sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dengan jumlah mencapai 648 siswa atau sekitar 0,44 persen dari jumlah total siswa,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Kediri Eko Setiyono, Kamis (14/10).
Adapun angka putus sekolah pada pelajar setingkat sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan menempati urutan paling tinggi, yakni 1,58 persen dengan jumlah 420 siswa.
Eko mengatakan, pelajar putus sekolah tingkat sekolah dasar banyak ditemukan di daerah pinggiran seperti Kecamatan Kepung, Kecamatan Puncu, Kecamatan Banyakan, dan Kecamatan Tarokan. Rata-rata setiap desa ditemukan sedikitnya 10 anak putus sekolah.
Penyebabnya bukan masalah ekonomi semata, lebih dominan karena kurangnya motivasi. Anak-anak sulit disuruh untuk bersekolah.
Selain itu, faktor pemicu tingginya angka putus sekolah adalah tidak tertanganinya anak-anak berkebutuhan khusus. Hal ini terjadi karena keberadaan se-
Sementara itu, lanjut Eko, tingginya angka putus sekolah di tingkat pelajar menengah atas dipicu maraknya anak-anak yang bekerja membantu orangtua.. Disamping itu, banyak pula orang tua yang memilih menikahkan anak perempuan tanpa menunggu lulus sekolah.
Kondisi ini, kata dia, mendorong Pemkab Kediri untuk meminta pemerintah desa me-