Selasa, 28 Maret 2017

Edukasi

Sidang PBB ala Mahasiswa

Selasa, 26 Oktober 2010 | 03:41 WIB

Perserikatan Bangsa-Bangsa berulang tahun pada 24 Oktober lalu; dan Majelis Umum PBB, lewat Resolusi Nomor A/RES/64/432, mencanangkan tahun 2010-2011 sebagai International Year of Youth bertema Our Year Our Voice. Dengan resolusi itu, PBB memberikan mandat bahwa di setiap kegiatan yang diselenggarakan akan menonjolkan aspek kepemudaan.

Salah satu butir resolusi yang dibuat tahun lalu ini menekankan pentingnya pemberdayaan pemuda dalam isu global demi perdamaian dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia (HAM). Sinergi antara pemuda ataupun organisasi pemuda dengan pemerintah dan masyarakat dalam berbagai kegiatan harus diupayakan demi terciptanya pemahaman bersama.

Pencanangan ini sekaligus menandai tekad PBB untuk lebih melibatkan pemuda dalam pencarian solusi atas berbagai permasalahan dunia.

Mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan, mengatakan, pada era modern ini banyak permasalahan muncul dengan karakterisasi problems without passport, permasalahan itu menyebar melintasi batas negara. Ini mengindikasikan bahwa permasalahan harus dilihat dalam lingkup lebih luas dan mengedepankan bentuk kerja sama antarbangsa.

Tingkat interdependensi antarnegara-bangsa yang semakin tinggi membuat kemitraan global menjadi jalan utama dalam menanggulangi berbagai permasalahan dunia. Partisipasi langsung para pemuda dalam membangun kesadaran dan empatinya terhadap permasalahan global itu merupakan kewajiban demi masa depan dunia.

Sistem kerja

Untuk memasyarakatkan sistem kerja organisasi internasional dan meningkatkan partisipasi serta kepedulian pemuda akan permasalahan global, dibentuklah konferensi simulasi sidang PBB yang disebut Model United Nations (MUN). Kata ”model” berarti meniru prosedur sidang PBB.

MUN diumpamakan sebagai miniatur komite dan organ-organ PBB bagi mahasiswa dan pelajar tingkat menengah atas. Di sini peserta simulasi diberi peran dan tugas merepresentasikan berbagai negara untuk mendiskusikan permasalahan global, yang menghasilkan resolusi. Kegiatan ini bisa meningkatkan keterampilan negosiasi peserta dan memperluas pandangan serta pengetahuan mereka.

Fenomena MUN pertama kali berkembang di Amerika Serikat (AS) tahun 1920-an. Sebelum PBB berdiri, simulasi sidang Liga Bangsa Bangsa (LBB) telah dilakukan. Hingga kini, MUN berkembang pesat menjadi salah satu aktivitas ekstrakurikuler ataupun kurikulum dalam pendidikan formal, terutama di AS dan Eropa.

Contoh MUN awal dan bergengsi adalah Harvard Model United Nations (HMUN) dan The Hague International Model United Nations (THIMUN). Simulasi-simulasi skala besar itu kini menjadi tuan rumah bagi 3.000 peserta setiap tahun.

Negara tetangga, seperti Singapura, setiap tahun menjadi tuan rumah bagi Nanyang Technological University Model United Nations (NTUMUN) dan baru memenangi pemilihan tuan rumah World Model United Nations (WMUN) tahun 2011. Adapun Kuala Lumpur menjadi tuan rumah Global Model United Nations (GMUN), MUN yang diselenggarakan langsung oleh PBB dan salah satu yang bergengsi.

MUN di Indonesia

Di kalangan mahasiswa di Indonesia, isu mengenai PBB dan permasalahan global acap diasosiasikan sebagai eksklusif dan terbatas. Mendalami organisasi PBB dan tata kerjanya belum menjadi tradisi. Pengetahuan dan informasi tentang MUN pun masih terbatas di kalangan mahasiswa dengan segmentasi studi hubungan internasional dan hukum internasional.

Selain itu, mahasiswa Indonesia kesulitan mengikuti MUN yang hanya berkembang di luar negeri karena ini memerlukan biaya tinggi jika kita ingin berpartisipasi.

Pada dasarnya MUN adalah kegiatan penting karena mampu meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam upaya pemecahan berbagai permasalahan internasional. MUN juga mempersiapkan para pemimpin masa depan Indonesia dalam menghadap tantangan global dalam lingkup hubungan antarbangsa.

Berbagai aspek yang dibicarakan dalam MUN justru tak hanya terpatok pada hubungan internasional, melainkan juga berbagai aspek lain, mulai dari masalah lingkungan, kejahatan sosial, hingga tentang nuklir.

Pemahaman mahasiswa Indonesia terhadap prosedur konferensi sidang PBB mungkin tertinggal beberapa dekade dari mereka yang berasal dari negara lain. Padahal, pada era globalisasi, daya kompetensi untuk hal ini diperlukan agar kita mampu menyejajarkan diri dengan negara lain. Seni berdiplomasi, public speaking, dan bernegosiasi merupakan beberapa kecakapan yang selayaknya kita dimiliki demi meningkatkan daya saing.

Untuk memperkenalkan MUN kepada masyarakat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia berinisiatif menyelenggarakan MUN bertajuk ”Indonesia Model United Nations” (IndonesiaMUN), bertepatan dengan ulang tahun ke-65 PBB.

Tema MUN berskala nasional pertama di Indonesia ini adalah ”Challenging Future Challenges: Bringing Diplomacy Forward”. Ini selaras dengan tujuan IndonesiaMUN untuk mempersiapkan para pemimpin masa depan bangsa berskala internasional.

Kali ini, pembicaraan mengenai nuklir dan keamanan internasional menjadi pilihan proyeksi masalah signifikan pada masa depan. Pembicaraan dilakukan dalam tiga komite yang menyimulasikan tiga organ internasional.

Ketiga komite itu adalah Majelis Umum PBB, Dewan Keamanan PBB, dan ASEAN Regional Forum. Sebanyak 177 delegasi se-Indonesia dan beberapa negara ASEAN berpartisipasi dalam kegiatan ini. Mereka berupaya menciptakan solusi bagi permasalahan dunia, seperti energi nuklir, limbah dan lingkungan, nuclear-terrorism, serta upaya pengayaan nuklir di Iran dan Korea Utara.

Penyelenggaraan IndonesiaMUN telah melalui beberapa tahapan. Pendaftaran dilakukan sejak Juli lalu lewat online dan roadshow ke beberapa kota, seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, Padang, Denpasar, dan Makassar. Lebih dari 1.050 mahasiswa se-Indonesia dan ASEAN mendaftar serta melalui tahapan seleksi berupa pengiriman esai berjudul ”A Letter to Ban Ki-moon: How UN could Contribute to the Peaceful Use of Nuclear”.

Peserta juga telah menjalani serangkaian proses pelatihan dan seminar dengan narasumber jajaran praktisi dan akademisi. Kegiatan ini mendapat dukungan United Nations Information Center Jakarta dan Direktorat Jenderal ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Konferensi MUN pertama di Indonesia ini mendapat tanggapan positif dari peserta. Devyta, mahasiswi Universitas Hasanuddin, mengungkapkan, “Saya senang ikut IndonesiaMUN. Saya mempersiapkan diri untuk konferensi nanti dengan riset untuk position paper. Saya mencari tahu motion apa yang bisa diajukan dari negara yang saya wakilkan (Korea Selatan).”

Sementara Imanuel Natasatria Situmorang, mahasiswa Institut Teknologi Bandung, menyatakan, penyelenggaraan IndonesiaMUN memberikan perubahan pada dirinya, ”Saya jadi lebih sering membaca koran. Saya mempersiapkan diri dengan membaca peraturan MUN dan riset lebih lanjut tentang negara yang saya wakili untuk position paper.”

Amri Pitoyo Priyadi dan Carolina DR Siahaan, Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia, Aktivis dan Pemerhati Model United Nations

Editor :