Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila - Kompas.com

Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila

Kompas.com - 06/12/2010, 11:37 WIB

Oleh IG Kingkin Teja Angkasa

KOMPAS.com - Masih segar dalam ingatan kita saat Presiden Obama mencoba mengingatkan kita tentang nilai keberagaman di masyarakat. Presiden Obama sangat lugas mengatakan tentang semangat Bhinneka Tunggal Ika, semangat yang tentu menjadi nilai dasar kehidupan berbangsa.

Lepas dari pernyataan Obama, kita patut melihat kembali semangat dasar Pancasila yang sesungguhnya menjadi identitas kita bersama. Zaman Presiden Soekarno telah meletakkan Pancasila dalam ranah praktis kehidupan berbangsa, dalam kajian nasionalisme-revolusioner. Pada masa pemerintahan Suharto, Pancasila diajarkan dalam konteks yang sangat formal, bahkan formalitas Pancasila telah tereduksi menjadi bagian kognitif belaka.

Di luar segala kekurangan pemerintahannya, Suharto mampu meletakkan Pancasila sebagai asas yang digunakan sebagian besar masyarakat sebagai pedoman bernegara. Pada era Reformasi, kajian Pancasila dilakukan lebih mendalam, berbagai elemen masyarakat mulai kritis mempertanyakan esensi pancasila dalam ranah kehidupan.

Masyarakat mulai mencari format yang lebih pasti tentang kajian Pancasila agar berguna dalam keseharian secara praktis dan dapat dimengerti sehingga Pancasila tidak lagi menjadi sesuatu yang tidak tersentuh dalam ranah praktis. Pancasila diharapkan mampu menjadi dasar kehidupan bernegara secara nyata. Cara yang paling efektif untuk memasyarakatkan nilai Pancasila tentu dalam ranah pendidikan.

Namun, tentu bukan pendidikan yang menempatkan Pancasila sebagai gambaran umum tanpa dipahami secara praktis. Sendi-sendi pendidikan harus mampu menurunkan Pancasila menjadi pedoman praktis relasi sosial. Melalui pendidikan Pancasila dapat didekonstruksi menjadi bahan yang menarik untuk dipelajari oleh para pendidik dan siswa. Pancasila dapat menjadi basis pendidikan karakter yang khas di Indonesia, dengan fokus keberagaman, toleransi, dan keadlian sosial.

Basis pendidikan karakter

Keragaman nilai dalam Pancasila merupakan modal dasar pendidikan karakter. Kita tidak perlu lagi mencari-cari bentuk bahkan model pendidikan karakter karena basis kekuatan karakter bangsa telah kita miliki.

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam sila pertama dapat kita jadikan acuan pembelajaran beberapa nilai. Nilai toleransi selama ini hanya menjadi wacana dan sulit untuk dilaksanakan dikarenakan berhenti pada tataran wacana kognitif. Hal tersebut mengakibatkan kelemahan karakter masyarakat. Sekolah seharusnya mulai mampu mencoba untuk menguraikan sila pertama menjadi bahan-bahan nilai dalam pendidikan karakter. Misalnya, toleransi, penghargaan terhadap kepercayaan lain melalui kegiatan-kegiatan permainan yang menarik.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menjadi bagian penting dalam rantai karakter bangsa. Memberadabkan sesama manusia menjadi modal utama dalam relasi sosial. Salah satu faktor dalam pendidikan karakter adalah kemampuan untuk memberikan apresiasi kepada orang lain. Melalui kegiatan praktis misalnya kerapian, kebersihan diri, ketekunan merupakan proses belajar untuk menjadi beradab. Hal tersebut dapat diajarkan melalui manajemen konflik. Sebagian orang melihat konflik adalah hal tabu sehingga konflik disingkirkan dari ranah pembelajaran. Padahal, dalam konflik, kita dapat saling memberadabkan manusia.

Konflik tentu bukan berarti anarkis, konflik dapat diajarkan melalui proses debat dan pemaparan argumen. Penting kiranya bahwa pendidikan manajemen konflik bertujuan untuk memberadabkan manusia dengan saling menghargai. Sila

Persatuan Indonesia mampu diuraikan dengan mengenalkan budaya Indonesia secara fisik. Berbagai hasil kebudayaan nasional sebagai contoh kebijaksanaan lokal adalah pintu masuk bagi pemahaman persatuan. Karakter persatuan yang mendasar adalah cinta Tanah Air. Proses cinta Tanah Air tentu tidak perlu lagi dengan cara-cara yang sangat abstrak.

Karakter ini dapat dibangun dengan membangun kreativitas siswa, tentu dengan masih membawa ciri khas kebudayaan daerah. Kreativitas siswa sangat erat dengan kemampuan memahami secara kognitif (competence). Dengan bantuan teknologi, kita dapat mengenalkan keragaman daerah dengan mudah. Bukan hanya itu saja, proses kreativitas juga makin mudah dengan bantuan teknologi. Karakter cinta Tanah Air dapat sangat terbantu dengan kehadiran alat modern sehingga dalam mengajar pun kita lebih mudah dan menarik.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan adalah sila yang saat ini selalu menjadi acuan dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. Satu masalah yang menarik adalah kita memiliki dasar nilai demokratis, namun tidak dapat dilaksanakan. Nilai demokrasi yang mendasar adalah taat asas, sesuai prosedur dan menghargai martabat orang lain sesuai hati nurani (conscience).

Inilah yang dapat disampaikan dalam pembelajaran pendidikan karakter siswa. Siswa dikenalkan dengan prosedur yang benar dan sesuai aturan/asas yang berlaku. Hal ini bukan untuk mengajak siswa menjadi pribadi yang semata patuh, namun mengajak mereka menjadi pribadi yang taat. Taat adalah bagian dari disiplin maka cara sila keempat ini dapat diawali dengan memberikan latihan disiplin diri untuk menghargai proses yang melibatkan orang lain.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia merupakan basis kepekaan sosial yang sangat mendasar. Manusia yang berkarakter salah satu indikasinya adalah mampu berjuang untuk sesama, bukan utuk dirinya. Itulah yang dimaksud dengan keadilan sosial, keadilan sosial tidak perlu lagi dibahas dalam cakupan yang luas dan menerawang, namun dalam kegiatan sehari-hari siswa. Apakah siswa telah berbela rasa (compassion) kepada siswa lain? Hal inilah yang dapat diuraikan dalam pembelajaran sehari-hari.

Sudah saatnya bagi tiap sekolah untuk meletakkan kembali Pancasila sebagai acuan dasar dalam membentuk karakter siswa. Terbukti Pancasila sangat kaya akan nilai-nilai keutamaan hidup yang mampu menyejahterakan masyarakat Indonesia. Sejahtera berarti bebas dari tindakan anarkis, lepas dari masalah fundamentalitas agama, radikalisme kesukuan, dualisme minoritas-mayoritas, dan perekonomian yang stabil dan merata. Satu-satunya jalan mewujudkan kesejahteraan adalah melalui pendidikan karakter.

Sekali lagi, tentunya, pendidikan karakter tidak dapat direduksi pada tataran angka. Bukan berarti sulit dilakukan, hanya membutuhkan keberanian pihak sekolah untuk meletakkan pendidikan karakter pada ranah afeksi siswa. Pemahaman terhadap Pancasila secara utuh tentu menjadi syarat pokok setiap pendidik.

Penulis adalah guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorLatief
    Close Ads X
    Close [X]
    Radio Live Streaming
    Sonora FM • Motion FM • Smart FM