Selasa, 30 September 2014

News / Edukasi

Penipuan

Bayar Rp 220 Juta Gagal Masuk FK Unhas

Selasa, 15 Februari 2011 | 05:08 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com — Kasus percaloan untuk masuk ke Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, terungkap.

Seorang calon mahasiswi asal Kendari, Sulawesi Tenggara, mengaku sudah membayar Rp 220 juta, tetapi tak kunjung kuliah di Fakultas Kedokteran Unhas seperti yang dijanjikan oleh si calo.

Karena merasa tertipu, gadis berinisial Elv (20) ini melapor ke Mapolrestabes Makassar. Elv, yang dihubungi Tribun Timur, Minggu (13/2/2011), mengatakan, dia dijanjikan oleh pria berinisial Ndi bisa masuk Unhas lewat jalur nonsubsidi untuk kelas internasional.

Syaratnya, bisa membayar Rp 220 juta pada penerimaan mahasiswa baru, Agustus 2010. Elv pun membicarakan dengan orangtuanya dan menyetujuinya. Elv lalu mentransfer uang tersebut ke rekening Ndi di Bank BNI.

Namun, setelah ada pengumuman, namanya tak tidak ada di daftar calon mahasiswa yang lulus. Sejak itu, Elv dan keluarganya terus mengejar Ndi untuk mengembalikan uangnya, tetapi tidak berhasil.

Kepada polisi, Elv menceritakan, dia bertetangga dengan Ndi di Kompleks Bumi Tamalanrea, Makassar. Karena faktor kedekatan inilah yang membuat keduanya saling percaya.

"Ia mengatakan, saya akan lulus asalkan membayar Rp 220 juta. Orangtua saya pun menerima penawaran itu," katanya.

"Mohon, maaf. Jangan dibesar-besarkan masalah ini. Nanti malah jadi masalah baru. Saya minta maaf, jangan wawancara dulu. Kami berupaya untuk pengembalian uang saya dulu," katanya langsung memutus pembicaraan.

Tanggapan Unhas

Kepala Humas Unhas Dahlan Abubakar mengakui, memang sering mendengar ada orang yang mengaku bisa memasukkan orang ke Fakultas Kedokteran Unhas. Padahal, katanya, itu tidak mungkin.

"Kalau memang mereka tidak mampu secara akademik, biar bayar berapa pun, tidak mungkin bisa lulus masuk Unhas," kata Dahlan.

Dia menepis kemungkinan orang Unhas yang bermain sebagai calo. "Kalau diatasnamakan, bisa saja. Namanya penipu, dia akan melakukan apa saja untuk meyakinkan calon korbannya," kata Dahlan, yang tahun lalu juga dicatut namanya oleh penipu sebagai orang yang bisa mengurus masuk Fakultas Kedokteran.

Menurut Dahlan, tahun lalu, jumlah pelamar khusus Fakultas Kedokteran mencapai 5.000 orang. Padahal, kuota untuk seluruh jalur masuk hanya sekitar 250 kursi. Bahkan, untuk jalur nonsubsidi yang pembayarannya hingga Rp 100 juta juga dipenuhi pendaftar.

"Tapi itu tadi. Meski ada jalur nonsubsidi, penentu mereka lulus atau tidak tetap hasil tes," katanya.

Penelusuran Tribun, Ndi bekerja sebagai pegawai negeri sipil. "Saya kurang tahu juga dinas apa karena jarang berbicara dengannya. Saya selalu melihat dia berpakaian dinas," kata warga di perumahannya yang enggan menyebut identitasnya.

Terpisah, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polrestabes Makassar AKBP Hery Marwanto mengatakan belum menerima laporan ini. "Mungkin besok baru saya terima. Kalau sudah diterima lalu akan dipelajari," katanya.

Jalur Nonsubsidi Tahun lau, Unhas mematok biaya masuk ke FK melalui JNS sebesar Rp 100 juta. JNS dibuka untuk mereka yang mampu dari sisi biaya, tetapi tidak lulus melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Biaya ini jauh lebih tinggi dibanding mereka yang lulus di FK melalui SNMPTN yang hanya membayar Rp 1,575 juta atau sama dengan biaya bagi mereka yang lulus di kelompok program studi (prodi) eksakta lainnya.

Tahun lalu, Unhas menyiapkan 15 kuota di FK melalui jalur JNS. Adapun yang lulus melalui jalur SNMPTN sebanyak 95 orang, melalui jalur pemanduan potensi belajar (JPPB) sebanyak 15 orang, dan jalur kerja sama sebanyak 40 orang. Totalnya sebanyak 165 orang.

Selain Fakultas Kedokteran, 13 fakultas lainnya di Unhas juga membuka jalur JNS dengan biaya yang bervariasi. Kedokteran gigi Rp 60 juta, farmasi Rp 50 juta, keperawatan Rp 40 juta, fisioterapi Rp 40 juta, ilmu gisi FKM Rp 40 juta, dan lainnya bervariasi antara Rp 10 juta-Rp 30 juta.

Biaya itu hanya dibayar sekali dan merupakan biaya pengganti subsidi bagi mahasiswa baru. Setelah itu, mereka yang lulus di jalur JNS, akan membayar sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) yang sama dengan mahasiswa yang lulus lewat SNMPTN, yaitu Rp 750.000  untuk eksakta dan Rp 600.000 untuk non-eksakta.

Secara keseluruhan, kuota mahasiswa baru Unhas yang diterima melalui JNS adalah 442 orang. Jadi secara keseluruhan, tahun ini Unhas menerima 5.263 mahasiswa baru yang tersebar ke 14 fakultas. (cr1)


Editor : yuli
Sumber: