Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Sekolah-sekolah Publik Makin Komersil!"

Kompas.com, 16 Maret 2011, 17:57 WIB
M.Latief

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Di saat Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan pejabat pemerintah kabupaten/kota di bidang pendidikan berkumpul dalam Rembuk Nasional Pendidikan untuk membahas kinerja ke depan Kemdiknas, para aktivis pendidikan dan organisasi pendidikan juga berkumpul dalam sebuah seminar di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (16/3/2011). Di sini mereka mengkritisi soal tetap dijalankannya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) oleh Kemdiknas.

Sejumlah aktivis pendidikan tersebut antara lain Utomo Dananjaya (Direktur Intitute for Education Reform Universitas Paramadina), Ade Irawan (Indonesia Corruption Watch/ICW), Retno Listyarti (Forum Musyawarah Guru Jakarta/FMGJ), serta tokoh-tokoh dari Koalisi Pendidikan, dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Hadir juga dalam seminar itu anggota Komisi E DPRD DKI, Jhony Simanjuntak.

Para aktivis dan pemerhati pendidikan tersebut menyatakan, RSBI telah menghambat tujuan pendidikan nasional. Pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan tidak akan terwujud selama RSBI/SBI terus dijalankan oleh Pemerintah karena dinilai banyak kelemahan.

Retno Listyarti misalnya, mengatakan bahwa grand design RSBI/SBI sangat tidak jelas.

"Mau dibawa ke mana dan apa indikator keberhasilannya, sehingga tidak jelas apa yang diperkuat, diperkaya, dikembangkan, dan diperdalam dalam SBI," ucap Retno.

Ia mengungkapkan, Kemdiknas membuat panduan model pelaksanaan untuk SBI baru (news developed), tetapi yang terjadi justru pengembangan pada sekolah-sekolah yang telah ada (existing school). Selain itu, RSBI juga menjauhkan peserta didik dari akar budaya bangsanya.

Retno menambahkan, pendidikan nasional seharusnya justru mengakar dari budaya bangsanya sendiri. Proses pendidikan semestinya tidak hanya untuk mempertajam pikiran, namun juga memperhalus perasaan peserta didik, sehingga proses pembelajaran dapat menanamkan nilai-nilai humanisme, pluralisme, multikultur, antikorupsi, dan sebagainya, sementara RSBI justeru menciptakan diskriminasi dan kastanisasi dalam pendidikan.

"Sekolah-sekolah publik kini menjadi sangat komersial. Komersialisasi pendidikan inilah yang harus kita lawan, karena hanya anak orang kaya yang bisa sekolah di SBI. Diskriminasi dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan tekanan psikologis pada peserta didik," tambahnya.

Sementara itu, menurut Ade Irawan dari ICW, RSBI juga rawan korupsi. Tetapi, sampai saat ini pelakunya tidak pernah ditindak.

Ade menyatakan, korupsi pendidikan tidak pernah diusut, apalagi ditindak. Pengawasan atas penggunaan uang masyarakat melalui komite sekolah maupun dana APBD dan APBN di sekolah-sekolah sangat longgar.

"Praktik korupsi di sekolah-sekolah jika dikumpulkan dari seluruh sekolah di Indonesia dapat saja jumlahnya mencapai triliunan rupiah," tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang


    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Terkini Lainnya

    SMA di Selandia Baru Kenalkan 9 Mata Pelajaran Baru, Selaras dengan Industri
    SMA di Selandia Baru Kenalkan 9 Mata Pelajaran Baru, Selaras dengan Industri
    Edu
    Mendikdasmen Lantik 17 Kepsek Sekolah Nasional Terintegrasi Perdana
    Mendikdasmen Lantik 17 Kepsek Sekolah Nasional Terintegrasi Perdana
    Edu
    15 Ikan Paling Enak dan Populer di Asia, Apakah Ada dari Indonesia?
    15 Ikan Paling Enak dan Populer di Asia, Apakah Ada dari Indonesia?
    Edu
    Hanya 3,9 Persen Maba yang Diterima ITB dari 139.399 Pendaftar, Ini 3 Fakultas Favorit
    Hanya 3,9 Persen Maba yang Diterima ITB dari 139.399 Pendaftar, Ini 3 Fakultas Favorit
    Edu
    10 PTN yang Lulusannya Cepat Dapat Kerja, Referensi Kuliah Tahun Depan
    10 PTN yang Lulusannya Cepat Dapat Kerja, Referensi Kuliah Tahun Depan
    Edu
    Hasil Pemeriksaan Mahasiswa JST yang Viral karena Batal Sidang Skripsi, Undana Sebut Tidak Sampai Alami Depresi
    Hasil Pemeriksaan Mahasiswa JST yang Viral karena Batal Sidang Skripsi, Undana Sebut Tidak Sampai Alami Depresi
    Edu
    80 Maba Asal Papua Selatan Tiba di UNJ dan Segera Mulai Perkuliahan
    80 Maba Asal Papua Selatan Tiba di UNJ dan Segera Mulai Perkuliahan
    Edu
    13 PTN yang Buka Jalur Mandiri Khusus Anggota Pramuka dan OSIS
    13 PTN yang Buka Jalur Mandiri Khusus Anggota Pramuka dan OSIS
    Edukasi
    Unpad Sediakan 3 Gedung Asrama Gratis bagi Mahasiswa Penerima KIP Kuliah dan Afirmasi 2026
    Unpad Sediakan 3 Gedung Asrama Gratis bagi Mahasiswa Penerima KIP Kuliah dan Afirmasi 2026
    Edu
    Jurusan, Syarat hingga Tips Persiapan Seleksi Sekolah Kedinasan STIS
    Jurusan, Syarat hingga Tips Persiapan Seleksi Sekolah Kedinasan STIS
    Edu
    DPR RI Berharap Pemerintah Segera Naikkan Gaji dan Tunjangan Guru demi Kesejahteraan
    DPR RI Berharap Pemerintah Segera Naikkan Gaji dan Tunjangan Guru demi Kesejahteraan
    Edu
    Siswa PJJ 2026 Juga Ikut MPLS, Apa Saja yang Diajarkan?
    Siswa PJJ 2026 Juga Ikut MPLS, Apa Saja yang Diajarkan?
    Edu
    Dekan UNJ Paparkan Policy Brief soal MBG hingga Hilirisasi, Dorong Kebijakan Berbasis Bukti
    Dekan UNJ Paparkan Policy Brief soal MBG hingga Hilirisasi, Dorong Kebijakan Berbasis Bukti
    Edu
    Kemendikdasmen Telusuri Dugaan Penyalahgunaan Data Dapodik Tanpa Izin
    Kemendikdasmen Telusuri Dugaan Penyalahgunaan Data Dapodik Tanpa Izin
    Edukasi
    Dana KJP Plus Tahap 1 Tahun 2026 Cair Bulan Ini, Cek Besarannya
    Dana KJP Plus Tahap 1 Tahun 2026 Cair Bulan Ini, Cek Besarannya
    Edu
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
    QR Code Kompas.com
    Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Komentar di Artikel Lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Close Ads
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
    Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
    Tanpa iklan dan artikel utuh
    Akses konten Orisinal tanpa batas
    Akses Podcast eksklusif
    Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
    Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
    Tanpa iklan dan artikel utuh
    Akses konten Orisinal tanpa batas
    Akses Podcast eksklusif
    Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
    Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
    Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
    Tanpa iklan dan artikel utuh
    Akses konten Orisinal tanpa batas
    Akses Podcast eksklusif
    Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
    Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
    Tanpa iklan dan artikel utuh
    Akses konten Orisinal tanpa batas
    Akses Podcast eksklusif
    Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Diperbaharui : 1 Juli 2026
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Pesan apresiasi berhasil
    Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau