Rabu, 30 Juli 2014

News / Edukasi

Siswa Daerah Terpencil Tunjuk Prestasi

Senin, 18 April 2011 | 17:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Siswa-siswa SD dari beberapa daerah terpencil di Indonesia mampu menunjukkan prestasinya di bidang sains. Anak-anak yang sehari-harinya belajar dengan sarana-prasarana pendidikan yang terbatas ini nyatanya mampu menembus babak semifinal Olimpiade Sains Kuark ke-5 yang digelar majalah komik sains Kuark di bawah binaan fisikawan Indonesia Yohanes Surya.

Sanny Djohan, Ketua Panitia Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2011 sekaligus pimpinan Majalah Sains Kuark di Jakarta, Senin (18/4/2011), mengatakan sebanyak 100 siswa SD dari Pulau Rupat dan Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Riau berhasil lolos ke babak semifinal. Mereka bagian dari 24.358 siswa SD dari 33 provinsi yang masuk dalam babak semifinal. Peserta awalnya berjumlah 82.000 siswa.  

"Kami berharap banyak anak dari daerah terpencil itu yang bisa melaju ke final sehingga bisa bergabung di Jakarta. Mereka adalah mutiara-mutiara terpendam yang dimiliki bangsa ini, yang selama ini minim kesempatan," ujar Sanny.

Sanny menjelaskan, pada OSK kali ini, siswa-siswa dari daerah terpencil diajak untuk ikut serta. Sebab, OSK bagi siswa kelas 1-6 SD ini bukan hanya untuk siswa pintar saja, tapi terbuka untuk semua siswa.

Program OSK, lanjut Sanny, bertujuan memberikan kesempatan bagi siswa berprestasi dan biasa-biasa saja untuk memiliki pengalaman berkompetisi. Tujuannya bukan semata-mata untuk menang, tetapi membangun kecintaan sains pada anak-anak supaya di masa depan lahir banyak ilmuwandi negeri ini.

Majalah sains Kuark bekerja sama dengan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang digagas Rektor Paramadina Anies Baswedan untuk memperkenalkan belajar sains asyik dan menyenangkan lewat majalah komik Kuark. Anak-anak di pelosok itu disiapkan untuk ikut OSK oleh pengajar muda yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil. 

Sebanyak 35 siswa SD di Pulau Rupat yang tembus ke babak semifinal merupakan keturunan suku Akit asli. Walaupun berasal dari komunitas adat, kita tidak boleh dan tidak pantas mengabaikan potensi yang dimiliki mereka. "Kita harus bisa menggali dan mengembangkannya," kata Agus Rachmanto, pengajar muda yang ditugaskan di SDN 04 Titi Akar, Pulau Rupat.

Nesia Anindita, pengajar muda di SDN 03 Teluk Rhu, Pulau Rupat, menambahkan, anak-anak yang berprestasi itu bukan juara kelas. "Bahkan, ada anak yang kesulitan belajar. Ternyata ada bakat mereka yang selama ini belum dikembangkan," kata Nesia.


Editor : Benny N Joewono