Rabu, 17 September 2014

News / Edukasi

MATEMATIKA

Ujian, Mengukur Kecakapan Kedaluwarsa

Jumat, 13 Mei 2011 | 14:10 WIB

Terkait

Oleh Iwan Pranoto

KOMPAS.com — Media massa sudah memberikan ulasan cukup banyak dari berbagai sisi tentang ujian nasional. Meski demikian, relevansi UN Matematika dengan tantangan kehidupan modern sendiri belum pernah diulas. Padahal, inilah yang seharusnya dikaji lebih mendalam.

Apa sebabnya? Pereka cipta standar pendidikan nasional kita telah menyadari peran vital pembelajaran Matematika sekolah dalam mengembangkan kecakapan yang dibutuhkan anak-anak kita agar dapat berperan di masa depan. Relevansi mata pelajaran Matematika sekolah dengan kecakapan masa depan diperkuat lagi dengan sebuah riset gabungan yang dilakukan pada 2006.

Saat itu, tim gabungan antara Departemen Tenaga Kerja AS, Massachussets Institute of Technology (MIT), dan Universitas Harvard, melakukan sebuah studi bersama untuk memahami kebutuhan kecakapan untuk masa depan. Peneliti Richard Murnane (Guru Besar Bidang Pendidikan Universitas Harvard) dan Frank Levy (Guru Besar Ekonomi Urban MIT) mendata kecakapan-kecakapan mana yang memiliki kecenderungan meningkat dan menurun kebutuhannya.

Satu kecakapan mental yang memiliki kecenderungan kebutuhan meningkat paling besar adalah expert thinking. Kecakapan mental expert thinking ini tepatnya adalah kecakapan memecahkan masalah yang belum ada jawabnya berdasarkan aturan atau rule-based solutions. Ini adalah jenis kecakapan mental untuk memecahkan masalah yang belum ada rumus pintas untuk menjawabnya.

Guna menumbuhkan kecakapan mental itulah, peran pembelajaran Matematika di abad ke-21 menjadi sangat penting. Melalui pembelajaran Matematika di sekolah, kita juga berharap anak-anak kita menyuburkan sikap yang mendukung expert thinking, seperti tak gampang menyerah, gigih, menikmati proses pemecahan masalah, ingin tahu, percaya diri dalam bermatematika, senantiasa mencari alternatif penyelesaian, dan sebagainya.

Sebaliknya, kecakapan yang memiliki kecenderungan penurunan kebutuhannya paling drastis adalah routine cognitive tasks. Ini adalah jenis kecakapan mental yang sangat jelas aturannya. Biasanya, aturannya sudah dapat dijabarkan dengan diagram alir if-then-else atau jika-maka-jika tidak.

Kegiatan-kegiatan mental yang didasarkan alur logika pasti seperti ini berangsur-angsur telah digantikan oleh kerja komputer. Akibatnya, kecakapan mental kognitif rutin ini semakin menurun tuntutannya dalam kehidupan modern seperti sekarang. Perusahaan-perusahaan besar modern sudah jarang menuntut kecakapan mental kedaluwarsa seperti ini lagi pada pelamar kerja.

Maka, sangat disayangkan, UN mata pelajaran Matematika kita justru memang fokus dalam mengukur kecakapan mental kognitif rutin tersebut. Assessment ini berkutat pada pengukuran ingat tidaknya siswa terhadap definisi/rumus dan menggunakannya serta mengukur keterampilan/ketelitian berhitung. Padahal, kumpulan kecakapan kedaluwarsa ini bukan bekal yang tepat untuk anak-anak kita hidup di abad ke-21.

Penulis adalah Dosen dan Pakar Matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB)


Editor : Latief