Selasa, 2 September 2014

News / Edukasi

BAHASA

Bahasa "Alay", Masihkah pada Tempatnya?

Rabu, 18 Mei 2011 | 18:00 WIB

Terkait

Oleh Erwin Hutapea

KOMPAS.com — Seiring dengan majunya peradaban manusia di dunia ini, termasuk di Indonesia, komunikasi menjadi salah satu penandanya. Berbagai cara manusia untuk berkomunikasi pada saat ini semakin canggih, yang didukung pula dengan penggunaan peralatan berteknologi mutakhir.

Dalam berkomunikasi, manusia memerlukan bahasa sebagai unsur penting. Sebab, dalam berbahasa itulah manusia bisa menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, yang kemudian diutarakan, antara lain, dalam wujud tulisan.

Di Indonesia, terdapat bermacam ragam bahasa daerah yang dipakai oleh masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu karena, memang, negara ini terdiri dari beraneka suku bangsa di seluruh wilayahnya.

Banyaknya jenis bahasa daerah itu sudah dikenal dan dipraktikkan oleh penduduk Indonesia sejak dulu kala, jauh sejak sebelum Indonesia merdeka sampai saat ini. Namun, sangat disayangkan, ternyata tidak semua generasi muda bangsa ini berminat untuk mempelajari, apalagi melestarikan, bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Bahkan, mereka cenderung menggunakan bahasanya sendiri, yang sepertinya lebih asyik digunakan dalam dunia pergaulan anak muda, khususnya remaja.

Salah satu bahasa yang sering digunakan itu adalah bahasa "alay". Pemakaian bahasa ini bisa dijumpai dalam bentuk tulisan, karena dalam bentuk tulisanlah kita dapat melihat perbedaan bahasa alay ini dari bahasa sehari-hari yang sudah digunakan orang pada umumnya.

Kemunculan bahasa ini dalam beberapa tahun terakhir sepertinya cukup fenomenal. Banyak sekali remaja mempraktikkannya dalam berbagai sarana komunikasi yang menggunakan tulisan, misalnya dalam mengirim layanan pesan singkat (SMS) di telepon seluler, chatting di dunia maya, update status ataupun komentar di akun Facebook, juga dalam messenger antarpengguna ponsel.

Sebenarnya, apa itu bahasa alay?

Dalam keterangan yang didapat dari berbagai sumber disebutkan bahwa alay merupakan akronim dari "anak layangan". Tidak begitu jelas maksud atau arti layangan di sini. Namun, karena perilaku layangan yang ketika dimainkan harus ditarik dan diulur, kemudian dijadikan perumpamaan kepribadian remaja yang masih labil. Artinya, bisa berubah-ubah karena ada tarikan dari sana-sini sesuai dengan pengaruh di sekitarnya.

Kemunculan bahasa alay dalam beberapa tahun belakangan ini bisa dirasakan kehadirannya di kalangan remaja, khususnya di Jakarta. Berikut ini contoh perubahan penulisan huruf ataupun kata dalam bahasa alay:

- kamu: kamuwh, kamyu, qamu

- aku: akyu, aq, aquwh

- maaf: mu'uph, maav

- sorry: cowyie, cory

- lagi: agi, agy, age, lageeh, lg

- makan: mums, mu'umhs

- lucu: lutchuw, luthu, lutu/luttu

- siapa: ciappa, siappva

Dari beberapa contoh di atas bisa dilihat bahwa tidak ada pola pembentukan kata yang jelas, yang bisa diterapkan untuk kata-kata lainnya. Belum lagi, penulisannya dalam suatu kalimat divariasi dengan angka untuk menggantikan huruf vokal dan penggunaan huruf besar ataupun huruf kecil di bagian tengah suatu kata, sehingga mungkin akan membuat Anda bertambah bingung membacanya. Contohnya sebagai berikut:

- Hi… qMu gi dm4na? w d4h gAg s4bar p3nGen keT3mU (Hai...kamu lagi di mana? Wah, sudah enggak sabar pengin ketemu)

- gMn4 rS4Na j4D1 k4Te m1DdL3tON yUa...(Bagaimana rasanya jadi Kate Middleton ya)

- wUiih teLAt b4NguN... uNtUNg g t3L4T (Wuiih, telat bangun... untung enggak telat)

- my h4RdeSt dAy n we3K...(My hardest day and week/Hari dan minggu yang berat)

- wiSh I c4n pAss tHeM aS sOon aS pOsSibL3 (Wish I can pass them as soon as possible/Saya berharap bisa melewatinya sesegera mungkin)

- Hbd y... w1sH U all the b3sT n God bl3ss U (Happy birthday.. wish you all the best and god bless you/Selamat ulang tahun, berharap yang terbaik dan semoga Tuhan memberkati dirimu)

Dari beberapa contoh kalimat di atas semakin terlihat bahwa tidak ada pola baku bisa diterapkan dalam penulisan bahasa alay. Bahkan, penulisannya pun bisa dalam bahasa asing, misalnya bahasa Inggris atau dicampur kedua-duanya.

Semua huruf ataupun kata yang ditulis bisa berubah-ubah, baik itu huruf besar maupun huruf kecil. Menulis kata bisa juga dengan rangkaian angka atau huruf atau mencampurnya. Terserah, pokoknya suka-suka gue aja! Begitulah kira-kira istilah gaulnya.

Merusak kaidah

Bagi sebagian orang, kemunculan bahasa alay ini bisa diterima sebagai perkembangan dunia remaja saat ini, terutama dalam berbahasa. Bisa jadi, karena para remaja ingin mengekspresikan dirinya dalam bentuk berbeda dari dunia orang dewasa, atau mungkin juga karena kreativitasnya, muncullah bahasa ini.

Namun, ada pula yang tidak bisa mafhum akan keberadaan bahasa ini. Bahasa alay dianggap telah merusak kaidah bahasa yang selama ini sudah biasa digunakan. Sebab, acap kali penggunaan bahasa itu tidak pada tempatnya.

Boleh saja bahasa alay digunakan dalam pergaulan sesama remaja, tetapi kadang mereka juga menggunakannya dalam berkomunikasi dengan orang lain, baik itu kepada anak kecil maupun orang dewasa, umpamanya orangtua dan guru. Mungkin, para remaja itu lupa bahwa mereka perlu belajar untuk menempatkan diri, termasuk dalam berkomunikasi dan berbahasa, dengan siapa mereka berhadapan.

Bahkan, yang lebih parah lagi, ada juga yang menggunakannya dalam surat lamaran kerja. Entah itu dengan maksud serius atau hanya bercanda, yang jelas penggunaan bahasa tersebut tidak pada tempatnya.

Tentu saja, hal ini tidak bisa diperkenankan karena penggunaan bahasa tulisan yang baik adalah hal yang mutlak dalam konteks tulisan formal, termasuk surat lamaran kerja. Maka dari itu, siapa pun yang mau menggunakan bahasa alay seharusnya bisa memahami ruang lingkup penggunaannya. Bagaimana dengan Anda? Berminat juga menggunakan b4HaS4 4L4y?

Penulis adalah Penyelaras Bahasa Kompas.com


Editor : Latief