Selasa, 21 Oktober 2014

News / Edukasi

Dialog Internasional

Kesenjangan Guru Hambat Pendidikan untuk Semua

Rabu, 14 September 2011 | 10:25 WIB

KUTA, KOMPAS.com — Target pencapaian "Pendidikan untuk Semua" pada tahun 2015 sulit tercapai karena kualitas dan jumlah guru yang tidak merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Kesenjangan yang terjadi bukan hanya pada kualitas guru, melainkan juga arah kebijakan dan alokasi anggaran. Tanpa perhatian yang serius terhadap guru, pendidikan dasar yang berkualitas bagi anak tidak akan tercapai.

Direktur untuk Perencanaan dan Pengembangan Sistem Pendidikan UNESCO Paris David Atchoarena mengatakan hal itu dalam Forum Dialog Kebijakan Internasional Ketiga dari International Task Force on Teachers for Education for All (EFA), Selasa (13/9/2011), di Kuta, Bali.

"Tujuannya bukan hanya membawa anak masuk sekolah, melainkan juga memperoleh pendidikan bermutu," kata David.

Pendidikan yang bermutu, kata David, otomatis ditentukan oleh mutu guru. Apalagi, guru menjadi penentu anak untuk mau masuk dan bertahan di sekolah. Karena guru menjadi kunci penting, komunitas internasional memfokuskan perhatian pada kualitas pembelajaran dan materi ajar yang disampaikan guru.

Guru daerah terpencil

Steve Passingham dari Komisi Eropa mengingatkan banyaknya negara yang masih kesulitan untuk menempatkan guru di daerah-daerah terpencil. Beragam cara dilakukan untuk menarik minat guru mengajar di daerah terpencil, seperti menaikkan gaji, menambah insentif, dan meminta guru dari daerah perkotaan untuk sesekali mengajar di daerah terpencil. "Harus ada cara agar guru mau mengajar di daerah-daerah terpencil," ujarnya.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan bahwa untuk menarik minat guru mengajar di daerah terpencil, pemerintah akan memberikan tunjangan khusus satu kali gaji pokok serta rumah dan beasiswa bagi anak-anak guru yang mengajar di daerah terpencil.

Selain itu, lanjut Fasli, juga telah dilatih 1.000 calon guru sekolah dasar lulusan SMA yang berasal dari kabupaten yang selalu kekurangan guru SD.

Pada tahun 2011, The UNESCO Institute of Statistics (UIS) memperkirakan, dunia masih membutuhkan sekitar 8,2 juta guru dalam kurun 2009 hingga 2015. Idealnya, satu guru maksimal mengajar 40 siswa.

The Global Monitoring Report 2011 menyebutkan, angka siswa putus sekolah di Asia Timur dan Pasifik meningkat lebih dari 3 juta siswa antara tahun 1999 dan 2007. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tren dunia yang cenderung menurun. (LUK)


Editor : Inggried
Sumber: