Kamis, 18 September 2014

News / Edukasi

Tersedia Pinjaman Lunak untuk Kuliah

Jumat, 7 Oktober 2011 | 21:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Calon mahasiswa dari keluarga prasejahtera tak perlu berkecil hati soal peluang berkuliah. Calon mahasiswa prasejahtera yang tidak mendapat beasiswa kuliah tetap bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dengan pinjaman lunak.

Siswa Bangsa, salah satu inisiatif Putera Sampoerna Foundation yang berbentuk koperasi dan menyediakan bantuan finansial untuk siswa-siswi berprestasi Indonesia dari keluarga prasejahtera. Lewat program Dana Siswa Bangsa, calon mahasiswa dari keluarga tidak mampu dapat memperoleh pinjaman lunak dana pendidikan berjangka panjang.

Pinjaman lunak berjangka panjang untuk pendidikan lewat program Dana Siswa Bangsa merupakan program pertama di Indonesia. Baru-baru ini, program Dana Siswa Bangsa memperoleh dukungan dana sebesar 5 juta dollar AS atau sekitar Rp 45 miliar.

Kucuran dana senilai 5 juta dollar AS tersebut berasal dari hasil kerja sama yang unik melalui kemitraan publik-swasta antara USAID, UBS AG (UBS), Raiffeisen Bank International AG (RBI), dan Putera Sampoerna.

Pinjaman lunak akan dialokasikan untuk pembiayaan sekitar 300 siswa-siswi Indonesia dari keluarga prasejahtera untuk melanjutkan pendidikan tinggi mereka. Siswa Bangsa mempunyai kapabilitas untuk menyeleksi siswa-siswi berpotensi serta memiliki prasarana untuk meminjamkan dana kepada siswa-siswi tersebut.

"Program pinjaman dana pendidikan ini merupakan bentuk komitmen kami dalam meningkatkan kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak muda Indonesia. Program ini merupakan contoh kerja sama publik-swasta antara pemerintahan Amerika Serikat dan pihak swasta di Indonesia," kata Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel, Jumat (7/10/2011).

Nenny Soemawinata, Managing Director Putera Sampoerna Foundation, mengemukakan, akses pendidikan tinggi siswa SMA/SMK/MA di Indonesia masih rendah. Dari sekitar 25 juta penduduk Indonesia berusia 19 hingga 23 tahun, hanya sekitar 4,5 juta yang terdaftar di perguruan tinggi seluruh Indonesia.

"Untuk akses pendidikan tinggi, Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lainnya," ujar Neny.

Data dari Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2010 menunjukkan terdapat 47,6 persen siswa-siswi Indonesia tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Alasan utama yang menyebabkan siswa-siswa Indonesia tidak melanjutkan pendidikan tinggi adalah keharusan bekerja untuk membantu orangtua (53,6 persen), faktor ekonomi (35,8 persen), dan memutuskan untuk menikah (15,8 persen).

Saat ini program Dana Siswa Bangsa telah membantu 167 pelajar dari Sampoerna School of Education dan Sampoerna School of Business. Ke depannya Siswa Bangsa akan terus membangun kerja sama dengan institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di luar negeri dalam implementasi Dana Siswa Bangsa.


Penulis: Ester Lince Napitupulu
Editor : Nasru Alam Aziz