Kamis, 18 Desember 2014

News / Edukasi

Pendidikan

Mau Kuliah Sastra Jerman? Baca Ini Dulu!

Selasa, 11 Oktober 2011 | 09:59 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Anda menyukai studi yang berkaitan dengan bahasa dan sastra? Beberapa cerita dari para alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia ini mungkin bisa menjadi testimoni yang menguatkan niat Anda itu. Mengambil pogram studi sastra bukan lagi sesuatu yang dianggap kurang menjanjikan, tetapi juga banyak mendatangkan keuntungan.

Dalam acara sharing rangkaian Dies Natalis Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Program Studi Sastra Jerman UI, kemarin, lima orang alumni, yaitu Tristiastini, Maya Siahaan, Marina Estella Anwar Bey, Nadiah Abidin,dan Setiorini yang memiliki bidang pekerjaan beragam, dari jurnalis, pengusaha, konjen, hingga penerjemah, berbagi pengalamannya menempuh program studi tersebut.      Mereka menekankan bahwa belajar bahasa selain bahasa Inggris merupakan suatu keunggulan.

"Mungkin ada yang berpikir, mau jadi apa saya setelah lulus dari Sastra Jerman? Saya pun dulu waktu jadi mahasiswa juga begitu," ujar Setiorini, Auditorium Gedung I, Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Setelah menamatkan studinya, Setiorini kini berprofesi sebagai jurnalis. "Tapi seharusnya kita tak perlu khawatir. Lulusan sastra pasti banyak yang cari, karena kita bisa bahasa lain selain Inggris," tambahnya.

Maria Estella Anwar Bey, alumni Sastra Jerman yang kini bekerja di Konsulat Jenderal RI di Berlin, Jerman, juga mengatakan, para mahasiswa seharusnya bangga menjadi mahasiswa sastra, dalam hal ini Sastra Jerman.

"Keunggulan Sastra Jerman adalah kita bisa bahasa Jerman, sedangkan yang lain hanya bisa bahasa Inggris," ujarnya.

Menurut Estella, ketika kuliah dulu, banyak yang menganggap remeh jurusan sastra. Bahkan, menurut dia, ada yang menyebutnya "sastra sayur". Ia juga mengingatkan, selain belajar bahasa di perkuliahan, para mahasiswa juga harus membuka cakrawala dengan membaca hal-hal yang berkaitan dengan politik, ekonomi, sejarah, dan lain-lain.

"Jadi, enggak ada tuh yang namanya 'sastra sayur'. Buktinya saya bisa bekerja di Kemlu (Kementerian Luar Negeri). Ini juga berkat dosen-dosen yang mengajar di Sastra Jerman, mereka memberikan pengaruh besar bagi saya ketika saya masih kuliah," ujarnya.

"Pandangan masyarakat terhadap jurusan sastra memang masih rendah, sehingga jika masuk sastra yang ada di benak mereka 'Apaan sih yang dipelajari di Sastra? Memangnya kalian mau jadi sastrawan?'," tambah Sally Pattinasarany, salah seorang dosen di Program Studi Sastra Jerman UI.

Selama perkuliahan, mahasiswa tidak hanya diajarkan diantaranya hal-hal mengenai bahasa, sejarah, dan kebudayaan.

Nadiah Abidin, seorang alumni yang pernah bekerja sebagai aktivis, pekerja media televisi, hingga penerjemah juga berbagi cerita bahwa sebagai lulusan Sastra, ia tidak pernah kesulitan mendapatkan pekerjaan. Bahkan, menurutnya, ia tidak pernah melamar pekerjaan karena berbagai tawaran justru menghampirinya.

"Jangan pernah takut dan kuatir setelah lulus dari sastra mau jadi apa, karena jika kita menguasai di suatu bidang, dalam hal ini bahasa Jerman, bukan kita yang mencari pekerjaan, tapi pekerjaan yang mencari kita," kata Nadiah.


Penulis: Lidya Natasha Hadiwinata
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary