Kamis, 23 Oktober 2014

News / Edukasi

Sekolah Terpencil

"Keringat" Guru Pedalaman Tumbuhkan Minat Baca Siswa

Jumat, 25 November 2011 | 12:13 WIB

Terkait

PELALAWAN, KOMPAS.com - Menumbuhkan minat baca siswa di pedalaman Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau bukanlah pekerjaan mudah. Di tengah keterbatasan fasilitas, sulitnya akses informasi, dan akses menuju Ukui, minat baca para siswa di sekolah dasar di wilayah itu terbilang rendah.

Namun, Supriyanto, guru di SDN 005 Bukit Jaya, Ukui, memiliki cara kreatif untuk menumbuhkan minat baca para siswanya. Apa strateginya?

"Kami sudah ada perpustakaan, tapi buku-buku itu dibiarkan begitu saja sampai berdebu enggak keurus karena tidak dibaca," ujar Supri, Kamis (24/11/2011), saat mengikuti pelatihan Pelita Pustaka di Club House PT Indosawit Subur Kebun Ukui, Riau.

Dari pelatihan Pelita Pustaka yang diadakan Tanoto Foundation itu, Supri bersama lima guru dari SDN 005 Bukit Jaya lainnya menjalani pelatihan meningkatkan minat baca siswa di pedalaman sejak tahun 2010. Perpustakaan sekolahnya pun mulai berbenah dengan menyeleksi buku-buku sesuai kategori bacaan.

"Alhamdulillah, walaupun sederhana dan tidak besar. Paling tidak, perpustakaan sudah ada, itu dulu yang penting," katanya.

Akan tetapi, keberadaan perpustakaan ini ternyata belum membuat para siswa tergerak. Perlu cara lain untuk membuat siswa mau menyambangi perpustakaan.

"Awalnya, anak-anak itu kami bebaskan untuk membaca fiksi. Kami rangsang dulu lewat tugas-tugas yang bahannya ada di perpustakaan," kata Supri

Mau tidak mau, siswa pun akan datang ke perpustakaan. Setelah membaca buku, para siswa diminta untuk membuat narasi tentang tokoh-tokoh di dalam cerita dari buku yang mereka baca.

"Mereka akan membacakannya di dalam kelas supaya yang lainnya juga mendapatkan tambahan wawasan dari cerita itu. Ini sekaligus membuat siswa lebih percaya diri," kata Supri.

Ia menyadari, salah satu kendala pendidikan di daerah pedalaman adalah kurangnya kepercayaan diri para siswa dan guru. Namun, Supri tidak gentar. Ia tetap optimistis siswa pedalaman juga bisa sukses seperti siswa-siswa yang mengenyam pendidikan di perkotaan.

"Untuk supaya pede (percaya diri) itulah, anak-anak kami minta pentaskan drama dari buku yang dibaca. Mungkin sederhana, tapi ini berpengaruh besar terhadap minat baca siswa kami," katanya.

Hal lain yang dilakukan adalah mempraktikkan apa yang dibaca siswa. Misalnya, dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Tidak hanya membaca teori, tetapi Supri juga mempraktikkan langsung di alam.

"Banyak orang bilang IPA itu ilmu bohong-bohongan, ilmu khayalan, saya mau ubah itu dan mempraktikkannya langsung ke alam. Kebetulan kalau masalah alam, di sini (Ukui, Riau) bisa langsung belajar dengan lingkungan sekitar tidak usah jauh-jauh," jelas Supri.

Alhasil, berbagai macam metode itu pun mampu meningkatkan minat baca siswa SDN 005 Bukit Jaya. Buku-buku hasil swadaya masyarakat dan pembelian dari dana bantuan operasional sekolah (BOS) sudah selesai dibaca para siswa. Prestasi siswa pun meningkat. Supri mengungkapkan, pada tahun 2009, masih ada siswa yang lulus dengan nilai 4.

"Tetapi, sejak perpustakaan didirikan pada tahun 2010, sudah tidak ada lagi yang lulus dengan nilai 4. Angka naik semua," kata Supri.

Supri menyadari buku adalah pelita ilmu. Namun, masih ada permasalahan SDN 005 Bukit Jaya, karena koleksi buku cerita di sekolah itu tidak pernah bertambah sejak 10 tahun lalu.

"Anak-anak bacanya buku itu-itu saja. Sampai pernah kita buat tebak judul buku, baru gerak sedikit mereka langsung tahu itu judulnya apa," ujarnya.

Ia pun berharap, ada pihak yang mau memberikan buku-buku kepada para siswa di sekolah-sekolah pedalaman.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary