Kamis, 2 Oktober 2014

News /

Tawuran Pelajar Terus Terjadi

Sabtu, 26 November 2011 | 03:20 WIB

Jakarta, Kompas - Kekerasan di kalangan pelajar terus terjadi. Tawuran antarpelajar di jalan atau saling serang ke sekolah lain belum berhenti selama hampir tiga dekade terakhir. Kasus terkini terjadi pada Kamis (24/11) sore di sekitar jalan layang Roxy, Jakarta Pusat. Satu pelajar tewas terkena bacokan senjata tajam.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metropolitan Jakarta Pusat Komisaris Hengki Haryadi mengatakan, korban bernama Rifal Edryan (16). ”Korban menderita luka bacok di dada kiri sekitar 15 sentimeter,” kata Hengki.

Korban masih bernapas setelah pembacokan tersebut. Kawan-kawannya sempat membawa korban ke RS Sumber Waras. Namun, dia tidak bernyawa lagi dalam perjalanan ke rumah sakit.

Rifal bukan satu-satunya korban. Pelajar lain, Anjar Anas (15), terluka akibat pukulan benda tumpul di kepala sebelah kiri dan punggung kanan.

Hengki mengatakan, tawuran pecah ketika korban bersama sekitar 10 orang lainnya naik kopaja, dan bermaksud akan pulang. Setibanya di jalan layang Roxy, bus yang ditumpangi kelompok ini dicegat oleh kawanan pelajar lain yang berjumlah 20 orang.

Sempat terjadi keributan di antara kedua kubu. Salah satu dari pelajar tersebut ada yang mengeluarkan senjata tajam, dan langsung membacok Rifal.

”Kami sudah mendapatkan identitas pelajar yang membacok korban. Sekarang sedang dalam pengejaran,” kata Hengki.

Kasus tawuran antarpelajar beberapa kali terjadi di Jakarta Pusat. Selain di kawasan tersebut, tawuran juga pernah pecah di seputar Jalan Salemba Raya atau Jalan Letjen Suprapto.

Di Jakarta Timur, seorang pelajar SMA Negeri 1 Cawang ditangkap karena membawa senjata tajam di dalam tasnya, Jumat. Diduga senjata itu akan digunakan untuk tawuran.

Siswa berinisial D (15) itu ditangkap saat hendak naik angkutan kota untuk pulang sekitar pukul 11.00. Ia ditangkap oleh petugas Satuan Lalu Lintas yang sedang berpatroli di kawasan Jalan Otista Raya dan Jalan Cawang Kapling.

Kemarin siang, D bersama beberapa teman sebaya hendak naik angkot. D terlihat diberi tanda oleh temannya akan kedatangan polisi.

Saat itulah, petugas melihat sebuah benda yang muncul dari tas ransel yang dibawa D. Petugas curiga benda itu adalah senjata sehingga mengejar dan menghentikan D yang akan naik angkot. Petugas mendapati sebuah arit di tas D, lalu membawa dia ke Polsek Metropolitan Jatinegara.

Dia diduga membawa senjata untuk menghadapi tekanan dari siswa sekolah lain. Sejumlah teman D yang menunggu pemeriksaan mengakui, sekolah mereka sedang menghadapi masalah dengan sekolah lain.

Puluhan tahun

Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Winarini Wilman, dalam diskusi bersama Litbang Kompas kemarin mengatakan, fenomena tawuran pelajar di Jakarta itu sudah terjadi selama puluhan tahun.

”Kalau melihat kecenderungannya, dari tahun ke tahun, kasusnya meningkat dan jumlah sekolah yang terlibat bertambah, begitu juga korbannya,” katanya.

Dari kacamata psikologi, ujar Winarini, tawuran merupakan perilaku kelompok. Ada sejarah, tradisi, dan cap yang lama melekat pada satu sekolah yang lalu terindoktrinasi dari para siswa senior kepada para yuniornya.

”Akibatnya, siswa terperangkap dalam identitas sosial sekolah dan tradisi tawuran dengan sekolah lain. Cuma ketemu saja dengan sekolah lain, siswa sudah merasa kesal. Itu lalu jadi alasan permusuhan,” ujar Winarini.

Tawuran lebih sering terjadi di jalanan, jauh dari sekolah. Tawuran juga sering kali terjadi di titik yang sama dan waktu yang sama. Aparat keamanan pun sering berjaga di titik tersebut, tetapi siswa yang hendak tawuran selalu bisa mencari cara untuk tetap tawuran.

Dalam penelitian untuk disertasi berjudul Student Involvement in Tawuran: A Social-psychological Interpretation of Intergroup Fighting among Male High School Students in Jakarta sekitar tahun 1996-1997, Winarini menemukan adanya fenomena barisan siswa (basis), yang terdiri atas 10-40 siswa. Mereka bersama-sama pergi dan pulang sekolah naik bus umum. Basis itu terbentuk berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan diserang oleh sekolah musuh bebuyutan mereka.

Fenomena yang terus berulang itu perlu diputus mata rantainya supaya tawuran pelajar bisa ditekan, bahkan dihilangkan. ”Salah satu solusinya adalah mengubah identitas sosial sekolah. Bisa pindah lokasi, ganti nama, dan jangan menggabung siswa kelas satu dengan senior mereka,” kata Winarini.

Solusi pengubahan identitas ini memang memakan dana besar dan butuh waktu lama. Solusi lain adalah membangun reputasi sekolah secara positif. Cap sekolah tawuran yang melekat pada suatu sekolah harus diubah menjadi citra positif yang membanggakan.

Membuat ajang pertemuan antarsekolah yang bersifat kompetisi, seperti pertandingan olahraga, tidak disarankan karena justru bisa memicu tawuran selanjutnya bagi pihak yang kalah. ”Satu lagi kuncinya adalah melepaskan tawuran itu dari kepentingan pihak-pihak tertentu yang ingin tawuran tetap ada,” ujar Winarini. (ART/FRO/BRO)


Editor :