Minggu, 21 Desember 2014

News / Regional

Tawuran, Dua Pelajar Gadungan Diamankan

Sabtu, 3 Desember 2011 | 21:53 WIB

PADANG, KOMPAS.com - Dua orang pelajar gadungan yang membawa senjata tajam diamankan jajaran kepolisian Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu, sekitar pukul 12.00 WIB, diduga akan melakukan tawuran.

Kepala SPK Shiff I Polresta Padang Ipda Daniel P Simangunsong, di Padang, Sabtu, mengatakan, dua pelajar gadungan tersebut diamankan setelah dilakukan pengintaian oleh jajaran intel di sekitar Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol Padang.

"RTH Imam Bonjol selama ini memang merupakan tempat paling sering terjadinya tawuran di kota ini, dan sering terjadi pada Sabtu dan Minggu, sebab itu tadi intel yang disebar di lokasi itu menemukan adanya pelajar gadungan yang membawa senjata tajam," kata Daniel, Sabtu (3/12/2011).

Dia menambahkan, saat ini dua orang tersebut diamankan di Polresta Padang, dan akan diselidiki motif kedua pelajar gadungan itu. Dua pelajar gadungan tersebut adalah Rama (19) dan Andi (15), yang sering mencari nafkah menjadi sopir tembak angkot yang ada di kota itu.

Rama kedapatan membawa senjata tajam di dalam tas yang disandangnya berupa gigi tarik motor yang diikat dengan sabuk berwarna kuning dan bertuliskan SMK Kosgoro.

Dari pengakuan Rama, tas tersebut titipan temannya, dan mengakui kalau dia memang memakai celana abu-abu, namun tidak memakai kemeja sekolah manapun.

Dua jam setelah dua pelajar gadungan tersebut diamankan, jajaran kepolisian Kota Padang kembali mengamankan empat pelajar yaitu DV (15) dari SMA YAPPI, dan tiga pelajar SMK 5 Padang dengan inisial W (18), U (15), R (15).

Dari keempat pelajar yang diamankan tersebut W (18) mengalami luka sayat di bagian lengan kiri, yang diduga akibat pisau. "Saya tadi dikeroyok hampir 10 orang, namun tidak tahu dari sekolah mana, luka ini setelah saya dikeroyok pelajar dari sekolah lain itu," jelas W.

Atas kejadian itu, Kelapa SPK Shiff I Polresta Padang mengatakan akan menyelidiki kasus itu, dan pada empat pelajar yang diamankan, terlebih dahulu akan dipanggil orang tua serta gurunya.

"Mereka akan didata dan dipanggil orang tua serta gurunya, kemudian dibuat surat perjanjian agar tidak terlibat tawuran lagi," jelas Daniel.


Editor : Benny N Joewono
Sumber: