Jumat, 29 Agustus 2014

News / Edukasi

Tak Lulus Sertifikasi, Ratusan Guru Demo Panitia Sertifikasi

Jumat, 30 Desember 2011 | 08:32 WIB

MALANG, KOMPAS.com-  Sekitar 300 guru, sebagian besar dari mereka guru senior, peserta sertifikasi guru pada rayon 115 yang lokasi sertifikasinya di kampus Universitas Negeri Malang (UM) mendatangi kampus itu, hari Kamis kemarin (29/12/2011). Mereka berdemonstrasi untuk memprotes hasil ujian sertifikasi oleh Panitia Sertifikasi Guru (PSG) yang tidak meluluskan para guru tersebut. PSG rayon 115 meliputi para guru dari 11 kota dan kabupaten se-Jawa Timur.

Para guru berdatangan dari berbagai daerah area rayon 115. Nama mereka tercantum di situs web panitia sebagai peserta yang tidak lulus. Mereka mula-mula berkumpul di depan gerbang kampus UM, lalu berjalan kaki masuk ke dalam kampus menuju gedung kantor PSG UM. Mereka mempertanyakan sejum lah keanehan, yang dinilai menjadi penyebab ketidaklulusan.

Suraji (50-an), guru asal Ngawi menjelaskan, dirinya mengalami sendiri keanehan atas hasil sertifikasi. " Saya tidak lulus ujian sertifikasi 2011. Artinya, saya baru boleh ikut ujian sertifikasi lagi 2013, dan tidak boleh ikut ujian sertifikasi 2012. Namun, sebelum pengumuman hasil ujiansertifikasi 2011 muncul, sudah muncul daftar peserta ujian sertifikasi 2012. Anehnya, nama saya ada disitu. Lebih aneh lagi, saya kemudian tidak lulus ujian sertifikasi setelah pengumumannya muncul. Jadi kami lalu bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya prosedur munculnya nama-nama, karena seolah-olah ada rekayasa yang mengatur jatah lulus dan tidak lulus," katanya.

Sejumlah keanehan lain diungkapkan para guru, yang menyebutkan ada guru yang meninggal setelah ujian sertifikasi sebelumnya tidak lulus. Pada peserta yang tidak lulus, ada peluang mengikuti ujian susulan atau remidy (perbaikan). Setelah ujian susulan selesai dan hasilnya diumumkan, nama orang yang sudah meninggal ini muncul dalam daftar ujian susulan, dan ada nilai hasil ujiannya. Ini terjadi pada nama seorang guru asal Kabupaten Madiun (Jawa Timur)

"Aneka cerita aneh ini mewarnai proses sertifikasi tersebut, yang memancing protes para guru. Ada peserta yang absen bisa lulus, ada peserta yang dalam keadaan sakit bahkan cuci darah bisa lulus, yang membuat kecewa pada peserta yang sehat dan mengikuti sertifikasi secara penuh," tutur Evy, guru SMA Negeri 5 Malang.

Ada juga kisah tentang diselenggarakannya sebuah seminar di Madiun, yang memberi janji kelulusan pada peserta seminar. Ini menjadikan peserta seminarnya menjadi banyak. Namun kemudian hasilnya ada peserta yang lulus sertifikasi, dan ada pula peserta seminar yang tidak lulus sertifikasi. Masalahnya pula, problem sejenis ini tidak terjadi pada PSG rayon lain, misalnya yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ungkap Ny Evy. Di antara para guru menyebutkan, banyak dari guru yang tidak lulus sertifikasi itu bergelar master dan doktor, sehingga menimbulkan tanda tanya.

Wakil guru kemudian diterima oleh Rektor UM Prof Dr Suparno, yang tidak muncul di lokasi demonstrasi. Perundingan hingga Kamis sore menghasilkan janji dari pihak UM sebagai instansi PSG Rayon 115 untuk mengkaji hasil kelulusan ujian sertifikasi dengan memeriksa hasil pekerjaan dari ujian sertifikasi kembali. Para guru demonstran ini kemudian membubarkan diri.

 


Penulis: Doddy Wisnu Pribadi
Editor : Pepih Nugraha