Selasa, 2 September 2014

News /

Kuliah "Murah" dan "Fleksibel" di UT

Jumat, 17 Februari 2012 | 03:59 WIB

Dulu, mungkin juga sampai saat ini, orang menilai Universitas Terbuka hanya diperuntukkan bagi orang-orang tua. Maksudnya orang-orang yang sudah bekerja dan tidak punya waktu untuk kuliah dengan sistem tatap muka karena kesibukan kerja mereka.

Betul MuDAers, citra Universitas Terbuka (UT) memang telanjur melekat sebagai kampus orang-orang tua. Enggak heran, orang-orang yang tercatat sebagai mahasiswa UT adalah para pekerja kantor, guru, dan profesional. Jarang yang berusia muda seperti kita-kita ini, MuDAers.

Tetapi itu dulu loh. Dua tahun terakhir, UT rupanya mulai dilirik orang muda. Maksudnya lulusan SMA sederajat seperti kita, MuDAers.

Tahu enggak ya MuDAers tentang hal ini?

Murah

Bimo adalah salah satu contohnya. Cowok lulusan sebuah SMAN di Kota Depok, Jawa Barat, ini sebenarnya sudah diterima di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Namun, karena tak ingin mengikuti ospek di kampus itu yang dikenal sangat keras, Bimo memilih mengundurkan diri.

Beruntung orangtuanya tidak keberatan, malah mendukung Bimo kuliah di UT. Apalagi kalau bukan karena alasan biaya kuliah yang murah. Soalnya, biaya per sistem kredit semester (SKS) di UT ”hanya” Rp 20.000. Bandingkan dengan biaya per SKS di perguruan tinggi negeri (PTN) lainnya, apalagi di perguruan tinggi swasta (PTS) yang dijamin jauh lebih mahal.

”Lagi pula saya juga berharap diterima bekerja di sebuah kedai kopi idaman saya,” papar Bimo. Alasan lain yang dikemukakan Bimo adalah dia tak ingin mengikuti perkuliahan dengan jadwal padat. Dia ingin selain berkuliah juga bisa melakukan aktivitas lain. Salah satunya ya bekerja itu.

Kirana Dwi Astuti, lulusan sebuah sekolah menengah kejuruan perhotelan di Pemalang, Jawa Tengah, juga memutuskan kuliah di UT. Pertimbangannya, biaya yang murah.

Awalnya, dia hijrah dari Pemalang ke Jakarta karena ingin mencari pekerjaan sesuai latar belakang pendidikannya, yaitu di hotel berbintang di Jakarta. Setelah melamar ke berbagai tempat, dia diterima di sebuah klinik gigi. Pekerjaan itu dia anggap sebagai batu loncatan untuk mencari pengalaman. Eh, ternyata gajinya tidak cukup untuk menutupi biaya dan kebutuhan hidupnya di Jakarta.

Mengikuti saran orangtua dan kerabatnya, Kirana akhirnya memilih pekerjaan sebagai pengasuh anak. Uang hasil jerih payahnya itu dia gunakan untuk membiayai kuliah di UT. Hebat yaa?

”Soalnya kalau enggak di UT, biaya kuliahnya kan mahal. Enggak mungkin orangtua saya bisa membiayai. Untunglah, ada UT yang biayanya terjangkau. Saya awalnya tidak percaya, termasuk orangtua. Tapi saya senang, akhirnya bisa kuliah, tanpa merepotkan orangtua saya,” kata Kirana.

Untuk 1 SKS, Kirana ”hanya” membayar Rp 20.000. Total dengan biaya administrasi dan kartu mahasiswa, biaya yang dikeluarkan Kirana sekitar Rp 755.000. Untuk buku-buku atau bahan ajar yang dia perlukan, Kirana membayar Rp 350.000.

”Saya juga berencana mengikuti tutorial. Biayanya Rp 150.000 per mata kuliah. Tapi saya tidak ambil semua. Hanya untuk mata kuliah yang kira-kira sulit saja,” kata Kirana.

Cukup murah ya, MuDAers? Bandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan jika kalian kuliah di PTN atau PTS yang mencapai puluhan bahkan hingga ratusan juta rupiah.

Ini artinya kalian yang mengira tidak akan pernah bisa kuliah karena biaya yang luar biasa mahal bisa kok mempertimbangkan untuk kuliah di UT.

Terjamin

MuDAers tidak perlu khawatir dengan kualitas lulusan UT. Rektor UT Tian Belawati menegaskan, UT memiliki sistem penjaminan yang komprehensif. Mulai program yang terakreditasi hingga melibatkan organisasi internasional untuk mereview sistem pendidikan jarak jauh yang diberlakukan di UT, termasuk auditor ISO.

”Jadi kami memang enggak main-main,” ujar Tian. Dia juga menambahkan, sejauh ini, belum pernah ada kabar miring yang menyebutkan lulusan UT susah mendapat pekerjaan atau sulit mendapat promosi. Jadi enggak perlu khawatir dong....

Apalagi UT punya 37 perwakilan, yang disebut UPBJJ (Unit Program Belajar Jarak Jauh), yang tersebar di 32 provinsi di seluruh Indonesia. Jadi kalian enggak perlu ke Jakarta, tetapi bisa kuliah di kota kalian. Ini berarti kalian akan menghemat uang kos, transportasi, dan akomodasi selama kuliah kan?

Bedanya, kalau kuliah di UT, kalian dituntut lebih mandiri dan kreatif. Soalnya kalian tidak diharuskan datang ke kampus setiap hari. Perkuliahan dilakukan dengan sistem jarak jauh melalui internet. Sementara tatap muka dilakukan sebanyak delapan kali dalam satu semester.

Agak beda memang. Makanya kalian juga harus siap mental. Termasuk bagaimana mempersiapkan diri berteman atau satu angkatan dengan orang-orang yang usianya jauh berbeda dengan kita.

Tapi kalian enggak perlu cemas, MuDAers. Pembantu Rektor IV UT Mohamad Yunus menjelaskan, akan ada masa orientasi studi bagi mahasiswa baru selama satu minggu. ”Materinya misalnya tentang manajemen waktu, membaca secara efektif, membaca web, dan mengatasi berbagai persoalan terkait perkuliahan,” terang Yunus.

SIPAS 19-23

Nah, kalau MuDAers tetap ingin kuliah di UT, tetapi dengan jadwal perkuliahan yang terarah, dan dengan teman-teman yang sebaya, ada program SIPAS (Sistem Paket Semester) 19-23 yang memang diperuntukkan bagi lulusan SMA sederajat. Program ini usianya masih seumur jagung, baru dua tahun, dan khusus menyasar lulusan SMA sederajat.

”Kurikulumnya dipaketkan sehingga mahasiswa bisa lulus sama dengan waktu kelulusan di universitas biasa, yaitu empat tahun atau delapan semester,” kata Tian. Selain menyediakan layanan tutorial, ada juga layanan tatap muka.

”Kan, kalau anak muda senang bisa ketemu teman yang sebaya. Perkuliahannya pun lebih terstruktur,” tambah Tian.

Nah, kalau perkuliahan UT yang biasa besaran biaya ditentukan dari jumlah SKS yang diambil, di program SIPAS 19-23 biayanya sudah dalam bentuk paket. Biayanya berkisar di angka Rp 1.750.000 per paket. Tetapi, fasilitasnya sudah komplet, mulai bahan ajar yang diperlukan hingga pengaturan jadwal tatap muka dan sebagainya.

Enaknya jika mengambil sistem ini, kalian bisa selesai tepat waktu seperti teman-teman yang kuliah di PTN atau PTS lain. Ya kalau jenjang strata-1 ya, antara 4-4,5 tahun. Jadi kayak kuliah biasanya.

Kalau misalnya kalian tertarik mengikuti program SIPAS, tetapi enggak punya teman yang bisa diajak sama-sama, enggak usah khawatir karena pihak UT yang akan mencarikan teman untuk kalian. Enak, kan?

Nah MuDAers, banyak kelebihannya ya ternyata kuliah di UT. Jika masih penasaran, bisa buka situsnya di www.ut.ac.id supaya kalian jadi tahu lebih banyak. Siapa tahu kalian pun tertarik jadi mahasiswa UT. Sudah murah, fleksibel lagi....

(DWI AS SETIANINGSIH)


Editor :