Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 15:08 WIB
Mulai Tahun Ini
Pendidikan Antikorupsi Masuk Kurikulum
| Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 22 Februari 2012 | 08:21 WIB
|
Share:
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Ilustrasi: Deretan surat berisi pesan antikorupsi dan dukungan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dari murid Sekolah Dasar Al Falah dari Jawa Tengah ditampilkan di Auditorium KPK, Kamis (8/12/2011). Surat-surat tersebut dipamerkan bertepatan dengan peluncuran Pusat Pembelajaran Antikorupsi sekaligus menyambut Hari Antikorupsi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan dan pembudayaan antikorupsi akan masuk ke kurikulum pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi mulai tahun 2012. Pemerintah akan memulai proyek percontohan pendidikan antikorupsi di pendidikan tinggi.

”Tidak harus menjadi mata kuliah tersendiri. Materinya nanti bisa diselipkan atau masuk mata kuliah di perguruan tinggi atau mata pelajaran di sekolah,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ainun Na’im seusai melantik 116 pejabat eselon III dan IV di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Selasa (21/2).

Menurut Ainun, materi pendidikan antikorupsi akan disusun oleh direktorat jenderal (ditjen) masing-masing. Misalnya, untuk SD dan SMP disusun oleh Ditjen Pendidikan Dasar, sementara untuk perguruan tinggi disusun oleh Ditjen Pendidikan Tinggi.

Ainun mengatakan, sampai saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih menghadapi kendala pelaksanaan berbagai program, terutama yang terkait integrasi kebudayaan dengan pendidikan. Dengan adanya unit baru, yakni ditjen kebudayaan, Ainun berharap kendala ini segera terselesaikan, termasuk penyerapan anggarannya.

Tahun 2012 penyerapan anggaran ditargetkan minimal 95 persen. Adapun daya serap anggaran 2011 hanya 89,6 persen atau paling rendah selama tiga tahun terakhir.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, pendidikan dan kebudayaan akan saling mendukung. Ini disebabkan kebudayaan masuk ke fungsi pendidikan karena nilai tradisi melekat dalam proses pendidikan. Bahkan, pendidikan karakter dibentuk melalui budaya. (LUK)

Sumber :
Kompas Cetak